Wednesday, 20 September 2017

10 Terpidana Nyusul Tahap Kedua

Jaksa Agung Ancam Bandar Narkoba Dengan TPPU

Minggu, 18 Januari 2015 — 15:27 WIB
Foto- Jaksa Agung, HM. Prasetyo memberikan keterangan pers di Kantor Kejaksaan Agung, Jakarta, Minggu (18/1). (Rihadin)

Foto- Jaksa Agung, HM. Prasetyo memberikan keterangan pers di Kantor Kejaksaan Agung, Jakarta, Minggu (18/1). (Rihadin)

JAKARTA (Pos Kota) – Kejaksaan Agung selaku eksekutor (pelaksana) hukuman mati tengah mempersiapkan eksekusi terpidana mati tahap kedua, setelah eksekusi tahap pertama terhadap enam terpidana mati dilaksanakan di Nusakambangan dan Boyolali, Jawa Tengah berjalan lancar, Minggu (19/1) dini hari.

Selain itu, Kejagung akan menggandeng Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), guna menjerat pengimpor (dan atau produsen), bandar dan pengedar narkoba dengan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

“Akan kita persiapkan. Diteliti dengan cermat, karena hasilnya ada diantara mereka sudah terpenuhi masalah hukumnya. Secepat itu pula, akan dilaksanakan eksekusi matinya,” jelas Jaksa Agung HM Prasetyo dalam keterangan pers di Kejaksaan Agung, Minggu (18/1/2015).

Namun demikian, Prasetyo tidak menyebutkan nama-nama terpidana yang sudah siap untuk dieksekusi, setelah grasinya ditolak. “Pastinya, jika sudah grasi, uang bersangkutan sudah mengaku bersalah dan mohon ampun. Tidak perlu lagi ajukan yang lain. Segera bisa dilaksanakan,” jawabnya.

10 TERPIDANA MATI

Tapi dari data yang ada, terdapat 10 terpidana mati yang ditolak permohonan grasinya oleh Presiden Jokowi, belum lama ini. Mereka, terdiri Syofial alias Iyen bin Azwar (WNI) perkara pembunuhan berencana dengan Keppres 28/G 2014 .

Lalu, Mary Jane Fiesta Veloso (WN Filipina) perkara narkotika, dengan Keppres 31/G 2014, Myuran Sukumaran alias Mark (WN Australia) perkara narkotika Keppres 32/G 2014, Harun bin Ajis (WNI) perkara pembunuhan berencana dan
Sargawi alias Ali bin Sanusi (WNI) perkara pembunuhan berencana.

Kemudian, Serge Areski Atlaoui (WN Prancis) perkara narkotika, dengan Keppres 35/G 2014, Martin Anderson alias Belo (WN Ghana) perkara narkotika, Keppres 1/G 2015, Zainal Abidin (WNI) perkara narkotika Keppres 2/G 2015, Raheem Agbaje Salami ‎(WN Cordova) perkara narkotika, Keppres 4/G 2015, Rodrigo Gularte (WN Brazil) perkara narkotika Keppres 5/G 2015.

DIANCAM TPPU

Di bagian lain, Prasetyo menegaskan guna memberikan efek jera kepada produsen dan atau pengimpor, bandar dan pengedar narkoba, maka mereka diancam dengan TPPU.

“Seperti kasus impor 800 kg shabu, belum lama ini. Nilainya sangat fantastis Rp1,5 triliun. Tentu, uang sebanyak itu tidak mustahil untuk dicuci. Jadi kasus narkoba terus dikembangkan untuk kemungkinan kejahatan lain,” ungkapnya seraya akan menggandeng PPATK, guna menjerat mereka dengan TPPU.

EKSEKUSI

Jaksa Agung menerangkan eksekusi mati telah dilaksanakan di Nusakambangan dan Boyolali sesuai rencana, meski agak meleset dari rencana awal, karena satu dan lain hal.

“Semula dilaksanakan serentak pukul 00.10 WIB, tapi karena satu dan lain hal, maka eksekusi terhadap lima terpidana di Nusakambangan dilakukan pukul, Minggu dini hari pukul 00.30. Sementara di Boyolali, pukul 00.46.”

Dia melanjutkan dia mendapat laporan dari Nusakambangan pukul 00. 41. “Untuk meyakinkan terpidana meninggal, dokter memeriksanya pukul 00. 40 WIB. Ini guna meyakinkan, tim dokter menunggu 10 menit dan setelah diperiksa betul meninggal.”
Sedangkan di Boyolali, sambung Prasetyo kepastian terpidana telah meninggal pukul 01. 21 WIB. “Jadi baru diperiksa pada, 01. 20 dan setelah itu diturunkan dari tiang dan sudah meninggal.”

Terhadap jenazah enam terpidana, jelas Prasetyo sebanyak tiga jenazah akan dikremasi atas permintaan terpidana dan keluarga dan tiga lain dimakamkam sesuai keyakinan masing-masing.

“Ang Kim Soe (lahir di Fakfak, Papua, tapi berkewarga negaraan Belanda), Budha akan dikremasi, isterinya datang ke Indonesia dan setelah dikremasi akan dibawa ke negaranya.”

Lalu, “Marco. Archer Cardoso Moreira (Brazil), Katolik atas permintaan terpidananya, juga dikremasi dan diserahkan ke tantenya, Tran Thi Bich Hanh (Vietnam) dikremasi di Semarang dan akan ditempatkan di makam pemuka agamanya yang sempat membaptis dia.”

Kapuspenkum Tony Tribagus yang ikut mendampingi Jaksa Agung dalam keterangan pers, menambahkan terpidana ini semula beragama Budha, lalu menjadi Katolik dan dibaptis oleh pastornya. “Permintaan terakhir, ingin dimakamkan di makam pastor yang membaptisnya dahulu.”

Sementara, jenazah Rani Andriani alias Melisa Aprilia dibawa ke Cianjur, Jawa Barat , Islam, guna dimakamkan berdekatan dengan makam ibundanya. Lalu, Daniel Enemuo alias Diarrassaouba Mamadou (Nigeria), Kristen, dipulangkan ke negaranya dan diberikan ke istrinya.

Sedangkan, Namaona Denis (Malawi) beragama Islam, menurut rencana dimakamkan di Nusakambangan.

(ahi/sir)