Friday, 23 August 2019

‘Kekerasan Pada Anak Kerap Dilakukan Orang Terdekat’

Minggu, 18 Januari 2015 — 18:41 WIB

JAKARTA (Pos Kota)- Anak korban kekerasan selalu mengalami trauma yang tidak mudah untuk disembuhkan. Karena itu, dalam proses rehabilitasi terhadap korban kekerasan anak, pemerintah perlu hadir secara aktif.

“Proses rehabilitasi anak yang mengalami trauma tidak mungkin dilakukan oleh keluarga atau orangtua anak secara sendiri. Perlu hadirnya pemerintah secara aktif dan berkesinambungan,” jelas Susianah Affandy, Ketua Bidang Sosial, Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga KOWANI, Minggu (18/1).

Hal ini menurut Susianah karena rehabilitasi trauma yang dialami anak
sifatnya sangat kompleks. Tidak hanya menyangkut trauma fisik tetapi juga psikologi.

Susianah mengatakan anak-anak di Indonesia sangat rentan terhadap tindak kekerasan termasuk kejahatan seksual. Tak hanya anak dari keluarga miskin tetapi juga anak-anak dari keluarga berada.

Menurut Susianah setidaknya ada 4 penyebab mengapa anak rentan kekerasan. Yakni anak umumnya mudah terpengaruh iming-iming hadiah, sulitnya anak mengekspresikan apa yang dialami dengan bahasa verbal, ketergantungan anak pada pelaku dan lambatnya korban kekerasan melaporkan kasusnya pada aparat kepolisian.

Lebih lanjut Susianah mengatakan bahwa pelaku kekerasan terhadap anak sebagian besar dilakukan oleh orang-orang yang dekat dengan anak, bahkan dari lingkungan keluarga atau tetangganya sendiri. Ketika menyangkut anggota keluarga, maka yang terjadi kasus kekerasan tersebut cenderung ditutupi karena dianggap sebagai aib keluarga.

“Ketika kasus kekerasan yang dialami tidak dilaporkan ke polisi, sesungguhnya anak tidak mendapatkan perlindungan yang semestinya. Anak pun semakin menjadi korban,” lanjut Susianah.

Dalam kacamata sosial, Susianah menilai penyebab kekerasan terhadap anak tidak tunggal, namun kompleks. Selain pola asuh dan kegagalan keluarga memiliki kontribusi anak menjadi pelaku dan korban kekerasan, ada tiga penyebab lain, yakni sosial ekonomi, sosial budaya, serta pendidikan dan agama.

Untuk mengatasi kasus-kasus kekersan pada anak menurut Susianah, pemerintah harus bergandengan tangan dengan masyarakat guna mesosialisasi dan mengedukasi tentang pola pengasuhan dan pendidikan anak tanpa kekerasan.

Susianah mengingatkan bahwa kekerasan terhadap anak akan membawa dampak yang buruk bagi tumbuh kembang anak. Selain itu anak yang mengalami kekerasan cenderung akan menjadi pelaku kekerasan pada saat menjadi dewasa. (inung)