Wednesday, 24 July 2019

Tidak Ada Makan Siang Gratis, Jokowi Bagi Bagi Kursi

Selasa, 20 Januari 2015 — 6:04 WIB
Ucha-20Jan

HADIS Nabi mengatakan: bayarlah upah buruh sebelum keringatnya kering. Dalam konteks Presiden Jokowi, hal itu diartikan menjadi: bagi-bagilah kursi sebelum tim sukses menagih. Sejak terpilih jadi presiden, Jokowi berusaha membuktikannya. Ada yang kebagian jadi menteri, kepala badan, sampai wantimpres. Maklumlah, dalam politik itu memang tak ada makan siang gratis. Siapa membantu pasti dapat gula batu!

Di masa Orde Baru, Pak Harto hanya bagi-bagi kekuasaan pada teman perjuangannya dulu. Bila masih hidup, langsung kepada yang bersangkutan. Tapi jika sudah meninggal, rasa terima kasih itu bisa diberikan kepada anaknya atau istrinya. Maka pernah terjadi, ada gubernur yang begitu bagus kinerjanya, diganti oleh yang lebih tua dan tidak cakap hanya demi memberi tempat pada teman.

Tapi setelah era reformasi, khususnya era Gus Dur, lebih unik lagi. Ada teman akrab yang “dipaksa” jadi dirut kantor berita, meski harus mengorbankan pihak lain yang tak berdosa. Bahkan ada, bekas kepala bank di daerah dijadikan Menteri Keuangan karena dulu membantu pengurusan kreditnya.

Era SBY dan Jokowi, gayanya tak jauh beda. Ucapan terima kasih itu diberikan kepada mereka yang berkeringat dalam pilpres (mitra koalisi). Karena kursi mentri hanya 34, ada yang dijadikan menteri “lungsuran”, karena nunggu setelah reshufle. Lantaran Jokowi baru tiga bulan, belum ada “lungsuran” kursi menteri itu. Yang tidak kebagian kursi menteri hanya diberi pos kepala badan atau sejenisnya, termasuk Wantimpres.

Banyak tokoh PDIP dan mitra koalisi yang cukup berkeringat, tapi hingga kini belum kebagian. Misalnya Maruarar Sirait, Hasto Kristianto, Eva Sundari dan Akbar Faisal (Nasdem). Kemarin Presiden Jokowi mengangkat 9 anggota Wantimpres, tapi sayang nama mereka sama sekali tidak ada. Justru banyak tokoh yang nampaknya tidak “berkeringat”.

Agaknya Hasto Kristianto Cs ini harus bersabar. Siapa tahu beberapa bulan ke depan ada “lungsuran” kursi menteri. Sebab Presiden Jokowi pernah “menjanjikan”, jika menteri kerjanya memble, akan segera diganti. Nah, itulah saatnya kursi “lungsuran” itu jatug ke tengan mereka yang “cengklungen” menunggu. – gunarso ts