Wednesday, 24 July 2019

Bank BNI Siap Biayai Proyek Infrastruktur Listrik 35 Ribu MW

Minggu, 25 Januari 2015 — 10:49 WIB
Foto- Dirut Bank BNI Gatot M Soewondo saat berbincang-bincang dengan wartawan, usai membuka acara media gathering. (setiawan)

Foto- Dirut Bank BNI Gatot M Soewondo saat berbincang-bincang dengan wartawan, usai membuka acara media gathering. (setiawan)

JAKARTA (Pos Kota) – Sejumlah perbankan siap membiayai proyek infrastruktur kelistrikan seperti membangun pembangkit (power plant) 35 ribu MW, termasuk jaringan transmisi. “Kami siap membiayai,” kata Dirut Bank BNI, Gatot M Soewondo, di sela-sela acara gathering, Minggu (25/1/2015).

Ia menambahkan ada empat bank, termasuk BNI akan menyiapkan dana untuk membiayai pembangunan infrastruktur listrik senilai 980 juta dolar AS atau setara Rp10 triliun. “Dari sisi keuangan, masing-masing bank akan menyiapkan dana Rp2,5 triliun.”

Memang dana yang disiapkan perbankan ini tak banyak. Idealnya, sebagian dana untuk membangun infrastruktur kelistrikan ini dari APBN, sisanya dari yang lain.

Ia mengaku rencana membangun pembangkit listrik 35 ribu MW sudah dibahas jauh-jauh hari. Bahkan semua kepala daerah. Dari gubernur, bupati dan walikota sudah mengumpulkan. Sebab untuk membangun infrastruktur harus kolaborasi dengan semua pihak.

Namun, Gatot mengaku sampai sekarang belum ada realisasinya, karena sibuk dengan pesta demokrasi. “Intinya, kami siap membiayai.”

Sebab saat ini memang diperlukan pembangunan infrastruktur kelistrikan, seiring dengan meningkatnya kebutuhan listrik. Sekarang yang harus dimatangkan lagi, menurutnya, proyek pembangkit listrik 35 ribu MW mau dibangun di daerah mana saja.

Kalau bangun pembangkit di Sumatera dan Kalimantan ada bahan bakarnya. Batubara dan Gas. Nah kalau di daerah lain yang tak memiliki bahan bakar, bagaimana? “Ini yang perlu dipikirkan bersama-sama. Kalau ada alternatif lain seperti menggunakan tenaga angin, tidak apa-apa,” ujarnya.

Memang, ia mengemukakan ada proyek yang secara ekonomis tidak available, tapi harus tetap dibangun karena proyek tersebut sangat dibutuhkan.

(setiawan/sir)