Monday, 11 December 2017

Dalam Membangun, Bodetabek Butuh ‘Positioning’ Unik

Jumat, 30 Januari 2015 — 19:06 WIB
Ilustrasi pembangunan. (ist)

Ilustrasi pembangunan. (ist)

JAKARTA (Pos Kota) -Perkembangan ekonomi region Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Cianjur (Jabodetabekjur) dengan Jakarta sebagai titik pusatnya menjadikan kota-kota seperti Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang dan Tangerang Selatan tumbuh pesat sebagai kota hunian. Namun, kelima kota ini harus bersaing untuk memperebutkan sumber daya.

“Ekonomi merupakan penggerak pertumbuhan kota. Motif ekonomi pula yang menentukan penempatan sumber daya oleh pemangku kepentingan kota pada suatu tempat, di satu kota tertentu,” kata Direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat Fakultas Ekonomi UI (LPEM FEUI) I Kadek Dian Sutrisna Artha, PhD dalam acara diskusi peluncuran Position Paper “Branding Tempat” di Kantor LPEM FEUI Jl. Salemba Raya No. 4 Jakarta Pusat Jumat (30/1).

“Kota Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang dan Tangerang Selatan masing-masing harus memiliki positioning yang unik untuk menarik sumber daya yang berbeda dan sesuai dengan proyeksi kebutuhan kota,” ujar ekonom lulusanUniversity of Groningen, Belanda tersebut. Seperti produk barang dan jasa, kota juga membutuhkan branding,” lanjutnya.

Menyadari kebutuhan tersebut, LPEM FEUI menggandeng Makna Informasi Indonesia, sebuah perusahaan konsultan komunikasi dan riset media yang telah menerbitkan buku tentang branding tempat (place branding). Position paper yang diluncurkan hari ini merupakan bagian dari kerja sama tersebut.

“Selain potensi ekonomi, kota juga membutuhkan citra dan reputasi yang baik juga unik untuk memenangkan persaingan,” kata CEO Makna Informasi Indonesia M Rahmat Yananda, dalam kesempatan yang sama. “Position paper Branding Tempat menggunakan dua perspektif, yaitu ekonomi dan komunikasi pemasaran,” kata konsultan yang juga perencana perkotaan ini.

“Sayangnya, citra kota yang terekam di surat kabar maupun media sosial belum menggambarkan identitas kota tersebut. Kota Depok cenderung diangkat dan dibicarakan dalam tone negatif, demikian juga Kota Tangerang Selatan. Kota Bekasi memiliki masalah citra kota yang serius karena banyak terkait dengan kasus kejahatan berat,” kata konsultan senior Makna Informasi Indonesia Dr. Ummi Salamah.

Position paper Branding Kota merupakan seri pertama dari beberapa seri yang direncanakan. Untuk seri pertama, kota Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang dan Tangerang Selatan menjadi fokus pehatian. Seri berikutnya akan mengangkat region atau kota lainnya dan bersifat tematik. Untuk seri perdana, position paper ditulis oleh peneliti dan ekonom perkotaan LPEM FEUI Muhammad Halley Yudhistira, PhD dan Dr. Ummi Salamah.

“Dari analisis ekonomi yang dilakukan, Kota Depok dan Tangerang Selatan sesuai untuk pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan karena kualitas SDM dan infrastruktur yang relatif baik. Sementara Kota Bekasi dan Tangerang adalah kota berbasis manufaktur,” ujar Yudhis. Akan halnya Bogor, kota ini sesuai untuk dikembangkan menjadi wisata kota (urban tourism).

Kota Tangerang, menurut Ummi cukup fokus pada isu-isu pelayanan dasar, khususnya kesehatan. “Hanya Kota Bogor yang mampu menyelipkan pesan mengenai potensi wisata kota meski dari segi kuantitas masih minim,” tambah Ummi.

BERBASIS IDENTITAS

Pada kesempatan yang sama, CEO PT. Makna Informasi M. Rahmat Yananda memperkenalkan buku Branding Tempat: Membangun Kota, Kabupaten dan Propinsi Berbasis Identitasmemperkenalkan buku terkait pembangunan daerah memakai perangkat branding.

“Secara umum, belum banyak buku yang membahas pembangunan daerah yang memakai perangkat branding. Karenanya, kami menulis buku tersebut dengan harapan dapat dipakai menjadi salah satu acuan pembangunan kota, kabupaten dan propinsi berbasis identitas masing-masing daerah,” jelas Rahmat. (lina/yo)