Monday, 24 September 2018

Ketika Cinta Berubah Menjadi Benci

Selasa, 3 Februari 2015 — 4:24 WIB
Dhika-3feb

ORANG, kalau sudah cinta apa pun akan dilakukan. Bukan sekadar kata cinta yang terlontar  seperti, ’aku cinta padamu, atau I love you, wo ai ni dst’. Tapi, apa saja akan dilakukan dengan harta benda dan jiwa.

Seorang lelaki atau wanita, tak peduli. Kalau mereka sedang kasmaran , jatuh cinta pada pasangannya, badai pun akan diterjang. Banyak kisah yang menceritakan tentang itu. Kisah  nyata atau sekadar legenda.

Tengok saja candi Prambanan, gunung Tangkuban  Perahu dan bangunan megah Taj Mahal, itu semua adalah bukti cinta. Dan ada yang mempertaruhkan nyawa demi cinta, seperti dalam kisah abadinya Romeo and Juliet.

Lihat tuh ada artis yang demen banget sam cowoknya sampai memberi hadiah mobil mewah, walau belakangan dia gigit jari karena sang cowok ninggalin? Ah, betapa hebatnya cinta!

Tapi, cinta juga akan berubah menjadi benci. Banyak orang bilang, beda antara cinta dan benci setipis kulit bawang. Tipis bangetlah. Maka perubahan  dari cinta menjadi benci sebegitu cepatnya.  Dalam benci orang bisa berbuat apa saja, menyakiti diri sendiri, misalnya bunuh diri? Seringkan kita dengar orang putus cinta langsung mengakhiri hidup?

Atau ada  yang nggak mau mati sendirian, maka dengan  penuh kenbecian tadi bisa membunuh orang yang dicintainya itu.  Bahkan sudah menjadi suami istri pun masih tega berbuat brutal kepada pasangannya. Suami menganiaya istri, bukan rahasia umum lagi. Atau sebaliknya istri menganiaya suami, juga nggak aneh. Atau saling menganiaya. Saling tusuk! Hiiii, ngeri…!

Cinta memang kadang buta, dan memabukan. Maunya sih, cinta kepada siapa pun tetap indah sepanjang masa. Jangan ada sesuatu yang diawali dengan cinta, dan harus diakhiri dengan benci?!   -massoes