Monday, 19 November 2018

Dan Si Dul pun Bingung

Sabtu, 7 Februari 2015 — 6:47 WIB

Oleh S Saiful Rahim

BERBEDA dari biasanya, setelah memberi salam Dul Karung masuk ke Warung Kopi Mas Wargo tanpa mencomot singkong goreng. Dia langsung duduk dan menarik nafas panjang.

“Ada apa Dul? Kau kok tampak lesu seperti perjaka ditinggalkan pacar?” tanya salah seorang hadirin  entah siapa dan yang mana.

“Mustahil Si Dul seperti perjaka ditinggalkan pacar. Kalau perjaka, dia sih mungkin saja. Tapi kalau punya pacar? Apa iya di zaman sekarang ada gadis yang mau dipacari oleh perjaka yang banyak utangnya? Monyet mabuk pun akan bingung kalau Dul Karung punya pacar,” tanggap orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung, sambil mencomot pisang goreng.

“Tutuplah mulut kalian semua! Aku sedang bingung nih,” bentak Dul Karung seraya, akhirnya, mengambil sepotong singkong goreng yang masih kebul-kebul juga.

“Apa yang membuat kau bingung?” tanya Mas Wargo sambil terus mengaduk kopi susu pesanan seorang pelanggan.

“Banyak sekali Mas,” jawab Dul Karung seraya mengunyah singkong.

“Bisa kau sebutkan satu saja sebagai contoh,” pinta orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung.

“Para pemimpin negeri kita inilah,” kata Dul Karung dengan suara galau.

“Wah, kalau bicara tentang pemimpin negeri sudah bukan lagi obrolan jemaah warung kopi kakilima seperti kita,” selak orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang semata wayang di sana.

“Kalau omongan atau perbuatan para pemimpin itu membuat kita bingung, mengapa kita tidak membicarakannya?” jawab Dul Karung ketus.

“Benar, Dul!” sambar orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Kita masyarakat kakilima, rakyat kecil yang kadang-kadang oleh para tokoh disebut akar rumput, itu memang bodoh. Bahkan mungkin terbelakang. Karena itu harusnya dibimbing oleh para pemimpin itu, jangan dibikin bingung. Orang kayak Dul Karung itu mikirin utangnya saja pada Mas Wargo sudah membuat dia bingung bagaimana cara membayarnya. Jangan dikirimin paket bingung lagi dong. Tapi ngomong-ngomong apa sih yang membuat kau jadi bingung, Dul?” sambung orang itu membuat orang yang mendengarkannya semula serius akhirnya mengulum senyum.

“Kita, bukan hanya yang kini ada di warung kopi ini, tapi dari Sabang sampai Merauke, kan sudah sepakat untuk memberantas korupsi, menegakkan hukum, kok para penegak hukum saling tuding dan saling tangkap?”

“Yang saling tuding dan tangkap itu bukan lembaga atau instansinya, Dul. Tapi oknum atau personelnya. Yang kau maksud itu kan KPK dan Polri? Sebagai sesama lembaga penegak hukum, Polri dan KPK nggak bermasalah,” selang Mas Wargo sambil menggoreng talas.

“Ya memang yang saling tuding dan tangkap itu personel atau oknum. Kalau lembaga sih, jangankan menangkap atau menuding, kentut juga nggak bisa,” jawab Dul Karung dengan nada tinggi.

“Coba Mas perhatikan kabar yang lebih panas daripada talas goreng yang sedang Mas balik itu, yakni kabar tentang personel atau oknum polisi yang bernama Labora. Di Jakarta, para petinggi penegak hukum dari lembaga mana pun mengatakan Labora buron. Lalu semua petinggi itu mengatakan akan menangkapnya, demi hukum dan dengan cara apapun. Namun menurut beliau-beliau itu, Labora belum bisa ditemukan. Tapi dua hari yang lalu media massa memuat wawancara atau berita si Labora yang diinterviu di rumahnya. Malah menurut Labora dia cuma tumbal. Katanya, dia berulang kali minta berhenti dari kepolisian tapi Mabes Polri menolak permohonannya. Bahkan sampai sekarang dia masih digaji. Malah dia berani menuduh petinggi lembaga hukum telah melakukan pembohongan publik tentang dirinya.

Nah, apakah membaca berita macam itu tidak membuat aku bingung?” sambung Dul Karung sambil meninggal warung. (syahsr@gmail.com )