Saturday, 21 September 2019

Disita 16 Kg Shabu

Wanita Guru Bahasa Indonesia Jadi Kurir Narkoba

Senin, 23 Februari 2015 — 18:10 WIB
Foto:Guru jadi kurir/Ifand

Foto:Guru jadi kurir/Ifand

JAKARTA (Pos Kota) – Seorang guru Bahasa Indonesia diamankan Badan Narkotika Nasional (BNN) saat menyelundupkan shabu seberat 16 kilogram. Wanita ini ditangkap dengan barang bukti yang disimpan di 15 kereta bayi.

Fatimah, 35, tak bisa berkutik saat petugas BNN meringkusnya di kawasan Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara. Wanita lajang ini tertangkap tangan saat menyelundupkan shabu asal Tiongkok yang disembunyikannya didalam 15 kereta bayi.

Kabag Humas BNN Slamet Pribadi menuturkan, Fatimah ditangkap saat keluar dari gudang di Muara Baru dengan menumpangi truk yang mengangkut 18 kereta bayi asal Tiongkok. Truk itu disewa pelaku  mengangkut 18 kereta bayi yang di dalamnya disisipkan shabu dengan berat total 16,04 kg. “Pelaku merupakan pemain lama yang sudah kami incar,” katanya, Senin (23/2).

Menurutnya, shabu tersebut dibagi dalam 15 paket, dimana dalam setiap paket dimasukkan ke  kantong yang ada di setiap kereta bayi. “Pelaku sendiri bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di sekolah dasar di Jember, Jawa Timur. Ia memperoleh upah Rp20 juta dan sudah menjadi kurir  empat kali,” terang Slamet.

Dikatakan Slamet, sebelumnya pelaku pernah satu kali menjadi kurir shabu di Medan, Sumatera Utara, dan dua kali di Yogyakarta. Dalam bisnis haram itu, pelaku bertugas mengambil paket shabu di Muara Baru. “Namun belum sempat disuplai, petugas langsung meringkusnya,” ungkapnya.

UPAH RP20 JUTA

Fatimah  mengaku, sebelumnya dia hanya memperoleh upah Rp3 juta sebagai kurir. Dan baru kali ini ia memperoleh upah Rp20 juta, yang menurutnya sebagai upah kotor. “Kalau bersihnya saya dapat Rp10 juta. Karena sisanya untuk operasional, tiket pesawat ke Jakarta dan sewa truk seharga Rp1 juta,” paparnya.

Fatimah juga mengaku, karirnya sebagai kurir narkoba, sudah dilakukannya enam bulan belakangan ini. Pekerjaan tersebut ia dapatkan lewat ajakan kawannya, sehingga ia tergiur setelah di iming-imingi dengan upah besar. “Gaji saya sebagai guru honorer di SD di Jember yang hanya Rp200 ribu per bulan, makanya saya langsung tertarik,” ungkap wanita yang belum menikah ini.

Hingga saat ini kasus tersebut masih dalam pengembangan penyidik. Atas perbuatannya pelaku terancam pasal 114 ayat (2), pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dengan hukuman maksimal pidana mati atau penjara seumur hidup. (Ifand)