Friday, 16 November 2018

Raja Arab Saudi Bagi bagi Bonus Triliunan Rupiah

Selasa, 24 Februari 2015 — 20:45 WIB
King Salman bin Abdul Azis

RIYADH – Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud Salman, yang naik tahta menggantikan Raja Abdullah – yang mangkat bulan lalu – mengumumkan bagi-bagi bonus kepada rakyatnya sebagai rasa syukur dan itikad baik atas jabatan baru yang diperolehnya.

Tak tanggung-tanggung, raja baru negeri petro dollar ini menggelontorkan $ 32 miliar – setara dengan Rp.384 triliun untuk sebagian besar rakyatnya. Utamanya para pegawai pemerintah dan para pendukung kerajaan.

Dana Rp.384 triliun setara dengan anggaran tahunan untuk negara Nigeria, yang memiliki ekonomi terbesar di Afrika. Enam kali lipat APBD DKI atau seperlima APBN negara kita.

Dibungkus dengan hibah, Raja Salman memberikan bonus dua bulan gaji untuk semua pegawai pemerintah, para tentara, kaum pensiunan dan mahasiswa juga tunjangan pemerintah di dalam dan di luar negeri. Termasuk juga untuk asosiasi profesional, sastra dan klub olahraga; investasi dalam air dan listrik, dll.

Gaji pegawai pemerintah di Arab Saudi rata-rata sekitar U$ 2.400 (setara Rp.31 juta) per bulan. Pekerja yang rajin dan produktif mendapat tambahan tunjangan untuk transportasi, perumahan, lembur dan bulan suci Ramadan. Karyawan dengan masa kerja yang lama bisa mendapatkan $ 4.800 (setara Rp.61,9 juta) per bulan atau lebih, kata analis ekonomi asing di negeri itu.

Banyak warga Saudi telah mengekspresikan kegembiraan mereka, di media sosial dan berterima kasih kepada raja dengan hashtag #two_salaries dalam bahasa Arab dan posting lelucon. Satu gambar menunjukkan langit biru penuh pesawat keluar dengan membaca keterangan “Bandara Saudi setelah mendapat bonus dua bulan gaji.”

Hadiah kerajaan berupa bonus dua bulan gaji, belum pernah terjadi sebelumnya. Almarhum Raja Abdullah mengumumkan kenaikan 15 persen gaji pemerintah setelah penobatannya pada tahun 2005, dan ia mengeluarkan bonus gaji satu bulan pada 2011 setelah kembali dari berobat ke luar negeri.

Analis Barat mencatat bahwa bonus terakhir datang ketika ramai terjadi pemberontakan Musim Semi Arab, yang membuat penguasa Saudi khawatir tentang kemungkinan adanya bibit pembrontakan di dalam negeri.

Bila hari hari ini hanya sedikit orang di Arab yang berbicara tentang pelanggaran hak asasi manusia atau reformasi politik, protes wanita dilarang menyetir, jangan heran . Kerajaan telah membungkam dan menguburkannya. Rakyat Saudi lebih tertarik pada ponsel baru, tas dan jalan jalan berlibur ke luar negeri. Mereka sibuk membeli kalung emas untuk istri dan ibu mereka dan beramal.

Beberapa orang lainnya telah menyisihkan uang untuk menikahi calonnya, menikahi lagi untuk isteri kedua atau ketiga. . – TST/dms