Thursday, 15 November 2018

Tanya Hatimu Sendiri

Sabtu, 28 Februari 2015 — 6:06 WIB

Oleh S Saiful Rahim

WAH dunia hukum kita bakal ramai dan para pengacara banyak yang bakal panen nih,” kata Dul Karung sambil masuk ke warung kopi Mas Wargo setelah mengucap assalamu alaykum.

“Kau sudah belajar ilmu nujum, ya Dul? Kok kau gak bilang-bilang sih. Kalau tahu aku juga mau ikut belajar,” sambut seseorang yang lalu bergeser memberi tempat Dul Karung duduk di sebelahnya.

“Ini bukan soal ilmu nujum, tapi ilmu politik. Nujum, sihir, dan segala ilmu yang sejenis itu, kata orang Betawi haram dipelajari,” jelas Dul Karung sambil mencomot singkong goreng yang merekah dan merangsang nafsu.

“Si Dul bukan sudah menguasai ilmu nujum, mungkin dia tahu banyak pengacara yang beli sawah. Sekarang kan zaman harga beras mahal. Karena itu Si Dul bilang pengacara bakal panen,” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang yang semata wayang di warung itu.

“Bukan! Bukan begitu. Kalian salah. Maksudku, setelah hakim Sarpin memenangkan Bapak Komjenpol Budi Gunawan di sidang prapengadilan, maka sekarang banyak pengekornya. Nah, itu artinya kita bakal banyak mendengar para ahli berdebat perkara hukum. Hiruk pikuklah nanti tu. Dan pengacara bakal banyak disewa jasanya. Nah, panen kan mereka,” jelas Dul Karung yang disambut oleh kedua pembicara dengan kata “Ooo begituuuu.”

“Iya ya. Ada mantan menteri agama, ada mantan anggota DPRD, DPR dan banyak lagi mantan pejabat daerah yang antre. Persis seperti yang diduga para ahli hukum sebelumnya.  Aku jadi benar-benar bingung. Kok putusan para hakim dalam sidang-sidang pengadilan selama ini kayaknya salah semua sih? Apa memang begitu, Dul?” sela seorang duduk selang tiga di kiri Dul Karung.

“Gak  tahu juga, ya. Karena yang mengajukan prapengalina itu ada yang mantan menteri agama, mantan anggota DPRD dari partai Islam, dan lain-lain yang selama ini sering bicara “berbau” agama, aku jadi ingat sebuah hadis Nabi Saw,” tutur Dul Karung dengan suara lamban.

“Bagaiman bunyi hadis itu?” potong seseorang entah yang dan siapa.

“Kata guruku di madrasah dulu, pada suatu hari Nabi Muhammad Saw bertemu seseorang Badwi yang bertanya tentang dosa. Jawab Rasulullah Saw, dosa adalah sesuatu yang bila dilakukan seseorang dia merasa hatinya tidak nyaman,” sambung Dul Karung.

“Kalau begitu mereka yang telah dipidana korupsi lalu mengajukan prapengadilan, hatinya nyaman-nyaman saja melakukan korupsi. Artinya dia merasa korupsi itu bukan perbuatan dosa. Nauzu billah min zalik.” Kata orang itu lagi sambil geleng-geleng kepala.

Karena lama Dul Karung tidak menjawab atau mengomentari kata-kata orang itu, Mas Wargo menyela. “Jadi sebenarnya orang bisa bertanya atau bisa merasakan apakah hatinya nyaman atau tidak ketika, atau sesudah, dia berbuat sesuatu,” kata Mas Wargo dengan suara lembut dan pelan.

“Iya kalau hati orang itu belum membatu. Kan ada ayat Quran yang menyatakan ada orang-orang yang oleh Allah ditutup hatinya, pendengarnya, dan juga penglihatannya. Itu kan artinya hati orang itu membantu, telinganya tuli dan matanya buta. Hidupnya macam ayam jago buta. Tabrak sana, tabrak sini. Tak peduli anak, tak peduli bini,” kata seseorang yang duduk di ujung kanan bangku dengan kalimat humoris.

“Kalau berutang hatimu rasanya nyaman apa nggak, Dul,” tanya orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo.

“Nanti kujawab setelah kutanya hatiku. Sekarang aku mau tanya dulu kalian semua. Tadi kan kita sudah bicara tentang hati, dan ada yang menyebut-nyebut ayam jago. Nah, agar ayam jago hatinya enak sebaiknya diapakan?” jawab Dul Karung sekaligus balik bertanya.

Beberapa orang pun berebut menjawab. Ada yang bilang digoreng, disate,diopor, disemur, dan lain-lain.

“Semua kalian salah,” kata Dul Karung. “Supaya hatinya enak, beri ayam jago itu makanan. Hati kalian pun akan terasa enak kalau kalian diberi makanan, kan?” kata Dul Karung sambil ngeloyor pergi. (syahsr@gmail.com )