Thursday, 15 November 2018

Malam Pertama Dipaksakan, Perkawinan Hanya Sekejap

Rabu, 4 Maret 2015 — 5:35 WIB
Dia 4 Maret

TARGET umumnya pengantin baru “serangan umum” non 1 Maret. Tapi Ny. Yuni, 20, belum siap melayani Hendri, 40.  Suaminya yang mantan duda itu sudah kebelet, sehingga Ida pun diikat di ranjang dan digauli gusrak-gusrak. Tak terima kekasaran suami Yuni minta cerai dan inilah perkawinan sekejap.

Ketika ijab kabul sudah terjadi, sahlah pasangan lelaki dan wanita itu menjadi suami istri. Hubungan intim yang tadinya haram, kini menjadi halalan tayiban. Sauami boleh memperlakukan istri sesuai selera, karena Qur’an juga mengajarkan: istri istri itu ladangmu, boleh kamu datangi dengan cara yang kamu suka (Al Bakarah 223). Namun demikian janganal waton nyregudug (asal tembak), karena belum tentu istri sudah dalam kondisi siap tempur.

Agaknya Hendri dari Balikpapan (Kaltim) ini tak bisa memahami hal demikian. Mentang-mentang sudah terlalu lama menduda, begitu “belanda” masuk tangsi langsung saja digelar serangan umum non 1 Maret 1949. Padahal Yuni sebagai istri di samping masih capek, juga belum begitu akrab dengan suami yang bolehnya dapat lewat perjodohan. Akibatnya, kacolah semuanya.

Ditilik dari selisih usia suami istri, memang sangat rawan. Tapi hal seperti ini sering terjadi. Hendri yang sudah lama menduda, pusing bertahun-tahun tidak pernah “ngetap olie”. Maka begitu ada yang menyarankan mengawini Ida yang cantik dan imut-imut, langsung saja nafsu. Padahal gadis itu lebih layak jadi anaknya.

Yuni sendiri sebagai anak keluarga miskin, tak bisa menolak perkawinan yang bermotif ekonomi itu. Ketika orangtuanya menjodohkan dengan Hendri, tak ada kata lain kecuali setuju. Selesai akad nikah resepsi perkawinan pun digelar, di mana itu semua atas sponsor pihak suami.

Siang acara resepsi, malam harinya Hendri nafsu banget untuk segera “serangan umum” mentang-mentang tidak ada peringatan dari PBB. Sayangnya, Yuni yang masih capek dan belum akrab dengan suami, menolak malam itu melayani Hendri. “Besok saja ya Mas, malam ini saya masih capek.” Kata nyonya.

Tapi Hendri yang nafsunya sudah di ubun-ubun, tak peduli lagi dengan penolakan isttri. Karena dirayu-rayu tak mau juga, langsung saja Yuni diikat diranjang, kemudian diperkosa dengan kejamnya. Legalah sudah mantan duda ini, karena telah berhasil melakukan serangan umum dengan tembakan peluru dua belas komah tujuh.

Enak di Hendri, tapi menderita bagi Yuni. Esok harinya langsung wanita pengantin baru itu menggugat cerai ke Pengadilan Agama Balikpapan. Majelis hakim sudah menyarankan damai saja, tapi Yuni bersikukuh bahwa perkawinan harus bubar. Dia tak sudi punya suami kasar, tak memahami perasaan istri.

Yang jadi targetnya cuma peranakan kok. (Gunarso TS)