Wednesday, 19 September 2018

Nilai Kursi dan Bangku

Sabtu, 14 Maret 2015 — 5:58 WIB

Oleh S Saiful Rahim

“WAH nilai kursi menjadi kian tinggi, nih,” kata Dul Karung setelah ucapan assalamu alaykum-nya disambut dengan jawaban antusias oleh hadirin di warung kopi Mas Wargo.

“Di sini kan kita tidak perlu kursi. Cukup duduk di bangku panjang saja,” sambut orang yang duduk di dekat pintu masuk seraya bergeser memberi tempat duduk untuk Dul Karung.

Sebelum meletakkan bokongnya di bagian bangku yang dikosongkan, Dul Karung mencomot singkong goreng. Mencaploknya, dan ngomong lagi dengan mulut yang penuh singkong.

“Itulah rahmat yang Allah Swt berikan kepada kita, rakyat kecil. Untuk duduk kita tidak selalu membutuhkan kursi. Di bangku, bahkan bangku panjang pun seperti yang disediakan Mas Wargo, ini sudah cukup. Bahkan bangku panjang lebih berkah. Bisa diduduki oleh tujuh sampai delapan orang bersama-sama,” kata Dul Karung lagi termonyong-monyong karena kepanasan.

“Tunggu dulu, Dul. Kau tahu dari mana harga kursi naik? Yang aku tahu, harga beras, harga dollar, harga karcis keretapi, yang naik. Kalau harga kursi belum kudengar sudah naik atau malah turun,” sela orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Dan harga diri turun terus,” potong seseorang entah yang mana dan siapa.

“Beginilah jadinya kalau ngomong dengan orang yang buta politik. Walaupun kita ini hanya jamaah warung kopi yang tidak perlu mengerti politik macam politisi, tapi kita tidak boleh buta politik. Kursi dalam istilah politik tidak sama dengan kursi yang ada di rumah kita, yang justru kita sediakan buat tamu, alias orang lain. Kursi bagi politisi adalah jabatan. Entah itu jabatan di partai, di DPR, apalagi di kabinet. Karena itu bagi mereka, eh beliau, kursi itu tidak boleh diberikan atau disediakan untuk tamu. Jangankan tamu, mertuanya pun takkan diberikan,” kata Dul Karung penuh semangat dan  agak jumawa.

“Ah, kau salah Dul kalau mengatakan politisi itu tak mau memberikan kursinya kepada mertua. Justru yang terjadi adalah yang demikian itu. Kursi justru diberikan kepada sanak famili. Berapa banyak gubernur, bupati, dan pejabat-pejabat setingkat itu yang ketika kursinya harus dilepaskan, dengan segala cara dan akal diusahakan agar istri, menantu, ipar, dan segala macam sanak saudara, bisa menggantikan dia menduduki kursi yang harus dilepaskan itu,” potong orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Nah, itulah yang sekarang mau dicoba diatur agar kursi itu tidak jadi warisan keluarga. Seorang gubernur, misalnya. Bila jabatannya habis, kursinya tidak boleh diduduki oleh istri, mertua, besan, dan sang sanak famili yang kau sebutkan itu. Bahkan nanti seorang pejabat tidak boleh merendahkan diri.”

“Maksudmu dia harus sombong?” sergap orang yang duduk di sebelah Dul Karung dengan cukup emosional.

“Bukan begitu. Maksudku gubernur yang habis masa jabatannya tidak boleh mencalonkan diri jadi walikota, atau bupati. Itu kan merendahkan diri. Mantan gubernur kok jadi bupati,” jelas Dul Karung yang disambut senyum para hadirin.

“Wah, itu aturan yang gak benar,” serobot orang yang duduk di depan Mas Wargo, yang berbusana dan berlagak seperti kebanyakan politisi.

“Aturan atau ketentuan macam itu melanggar hak asasi, atau setidak-tidaknya melanggar hak politik, seseorang. Apa adik seorang gubernur tidak boleh menjadi gubernur seperti kakaknya? Atau seorang istri tidak boleh menggantikan suaminya jadi bupati? Kan setiap warga negara boleh menjadi apa saja yang dikehendaki, asalkan dengan cara yang benar. Yang membuat, atau punya niat membuat, aturan macam itu harus kita demo rame-rame,” sambung orang itu dengan emosi yang tinggi.

“Nah, betul kan kataku nilai kursi kian tinggi? Bahkan bangku dari kayu pun harganya jadi amat tinggi. Lihat saja nasib nenek Asyani, atau entah siapa nama perempuan berumur 70 tahun itu, yang dihukum karena dituduh mencuri kayu. Padahal menurut sang nenek kayu itu miliknya sendiri yang akan dijadikannya bangku,” kata Dul Karung sambil meninggalkan warung tanpa mau peduli reaksi yang akan timbul karena ucapannya. (syahsr@gmail.com )