Tuesday, 21 August 2018

Ulama Yaman Kunjungi Ponpes Asshiddiqiyah

Minggu, 15 Maret 2015 — 13:15 WIB
Foto : dari kiri, Suryadharma Ali, Abdul Aatiq al Baihany, KH Noer M Iskandar saat hadir di acara Milad 30 Asshiddiqiyah, Jakarta, Minggu (15/3)/Johara

Foto : dari kiri, Suryadharma Ali, Abdul Aatiq al Baihany, KH Noer M Iskandar saat hadir di acara Milad 30 Asshiddiqiyah, Jakarta, Minggu (15/3)/Johara

JAKARTA (Pos Kota) – Mufti (ulama) dari Yaman, Syech Abdul Aatiq al Baihany kunjungi pondok pesantren (Ponpes) di Indonesia, salah satunya Ponpes Asshiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat, Minggu (15/3).

Kunjungannya ke Asshiddiqiyah untuk menghadiri Milad ke-30 Asshiddiqiyah. Hadir dalam acara itu, Pimpinan Ponpes Asshiddiqiyah KH Noer M Iskandar, SQ, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, mantan Menteri Agama Suryadharmi Ali, termasuk ribuan santri.

Syech Abdul Aatiq dalam ceramahnya mengharapkan agar Indonesia menjadi negara yang makmur, dan dijauhi dari segala musibah, dijauhi dari segala fitnah, dan Indonesia menjadi negara yang aman.

“Sebab itu, kita harus banyak berdoa kepada Allah Swt. Dan kalau kita doanya ingin dikabulkan oleh Allah maka kita harus banyak membaca Al-Qur’an, dan menghafal hadisr Nabi Muhammad Saw, termasuk melafazkan dan mengajarkannya,” tutur Abdul Aatiq.

“Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang memiliki semangat dalam membaca Al-Qur’an, mereka yang tidak berputus asa dalam belajar Al-Qur’an. “Kita wajib belajar Al-Qur’an dan juga memeliharanya,” terang Abdul Aatiq.

Kepada kaum perempuan, Abdul Aatiq juga mengingatkan, bahwa di surga ada delapan pintu, dan bagi wanita soleha tinggal memilih pintu mana yang diinginkannya. Namun syaratnya wanita itu harus soleha.

Ia mengatakan sifat wanita soleha ada empat, pertama, wanita itu harus menjaga salatnya, kedua menjaga puasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, keempat taat kepada suami.

Khofifah dalam ceramahnya mengatakan, kehadiran kita semua di Milad Asshiddiqiyah membangun tali silaturrahmi.

Dalam kapasitasnya sebagai kementerian Presiden Jokowi, lanjut Khofifah, dirinya menangani sosial keumatan. Permasalahan keumatan adalah persoalan kemiskinan, dan persoalan kita semua.

“Di Jawa Timur adalah yang paling banyak orang miskin, dan paling banyak orang NU (Nahdlatul Ulama) yang tinggal di desa-desa, begitu juga banyak TKI (Tenaga Kerja Indonesia) bermasalah juga di Jawa Timur.,” tutur Khofifah.

Sebab itu, lanjut Khofifah, bagaimana kita membantu mereka yakni, melalui jihad bilhal seperti yang telah disampaikan Kiai Noer, membantu dengan melalui sedekah.

(johara/sir)