Monday, 15 July 2019

Jamuan Makan Malam

Jumat, 20 Maret 2015 — 2:32 WIB
DK 20 Maret

BANG JALIL bingung. Benar-benar bingung. Diterima atau nggak ya, undangan makan malam dari  warganya? Masalahnya, ada dua warga yang sedang bertikai di wilayah ke-ertean yang dipimpinnya, mengundang makan malam.

“Jangan lupa Pak Jalil, malam minggu besok datang, ya?” ujar warga yang pertama.

“ Malam Minggu depannya saya minta juga Pak Jalil dan Ibu, kalau perlu sekeluarga makan malam bersama keluarga saya,” ujar warga yang kedua.

“Kami sudah siapkan menu kesukaan Pak Jalil. Ikan gurame bakar, dan gulai kepala ikan kakap!” ujar  warga yang pertama.

“ Pak Jalil pernah makan steak nggak? Itu tuh, makanan dari barat sana. Daging bakar  yang dimakan pakai saus. Pak Jalil jangan lupa belajar pegang pisau sama garpu!”

Bang Jalil bilang ‘ya’ tidak, bilang ‘tidak’ juga nggak.  Ngambang. Otak Bang Jalil masih waras. Sekarang ini jamannya orang saling mengadu domba. Bang Jalil nggak mau kalau jadi ‘domba’.

Memang sepanjang dia jadi ketua RT, ada saja masalah dari warga yang datang. Ribut antar warga satu dengan warga lainnya dan soal tetek bengek yang nggak jelas.Persoalan sepele,dibesar-besarkan. Begitulah yang terjadi sekarang. Nggak mau akur. Mereka saling curiga, saling tuduh. Seperti orang di atas sono?

Nah, oleh sebab itu setelah berfikir panjang,  Bang Jalil langsung saja mengambil sikap ’tidak mau’ atau ‘menolak’,  menghadiri jamuan makan malam dari kedua warganya. ” Saya sedang mengadili kedua warga tersebut. Kalau saya mau makan malam bersama mereka, wah apa kata dunia?” ujar Bang Jalil.

Pasal-pasal korupsi yang ditangani KPK, bahwa ‘sesuatu’ yang diterima oleh seorang pejabat sekecil apapun, termasuk ‘makan malam’ bisa dianggap gratifikasi!

Hemm, tapi ada juga sih, pejabat yang punya rekening gendut hasil hadiah dari para koleganya, bisa lolos dari jerat korupsi. Betulkah?  – massoes