Friday, 21 September 2018

Ketika Istri Bang Jalil Mogok Masak!

Sabtu, 28 Maret 2015 — 6:18 WIB
DK 28 Maret

BANG JALIL masih belum bisa befikir. Otak di kepalanya masih butek. Kayaknya ada titik titik hitam, berputar-putar tak menentu. Itu yang mebuatnya jadi pusing.

Lebih pusing lagi ketika sang istri mengeluh;” Gas habis, minyak goreng habis. Beras tinggal sedikit.”

Bang Jalil tahu, keluhan sang istri itu sebagai bentuk protes. Seharusnya sebagai suami, Bang Jalil tanggap. Itu keluhan sebenarnya sebagai isyarat permintaan uang belanja secara halus.” Sabar, Bu. Apa yang ada dulu deh dimasak,” kata Bang Jalil.

Sang istri diam saja, itu juga bentuk protes. “Memasak apa yang ada?’” ujar si istri di dalam hati. Kan sudah dibilang semua habis. Apa yang dimasak, air? Air untuk masak juga kudu beli sekarang?”

“Ya, kalau gitu Ibu coba usaha, ngutang dulu deh, di warung langganan Ibu,” ujar Bang Jalil, memberi saran.

Tapi, seharian istri Bang Jalil tidak bergerak sama sekali. Pokonya dia mogok. Nggak menyalakan kompor. Dapur nggak ngebul!

Itulah yang membuat pusing Bang Jalil menjadi-jadi. Dan pusingnya pasti akan terus berlanjut seiring dengan kenaikkan harga kebutuhan pokok. Sebentar lagi gas naik, bensin naik. Kalau BBM naik, bisa dibayangkan deh, semua pasti ikutan naik. Iya apa iya?

Bang Jalil menekan nomor di HP, lalu dia ‘berhalo-halo’. “ Ya, saya Jalil. Gini Pak, katanya Bapak mau mensejahterakan rakyat? Tapi, kok harga-harga malah naik terus? Katanya mau swasembada beras, kok istri saya malah kehabisan beras?”

“Bapak ngomong sama siapa?” tanya sang isttri iseng.

“Sama Bapak Presiden!” jawab Bang Jalil, sekenanya.

“Pretttt!” teriak sang istri sengit. Dia tahu kalau Bang Jalil ngibul. – massoes