Wednesday, 21 November 2018

Urus Diri Saja Tak Mampu, kok, Beraninya Punya Istri

Rabu, 1 April 2015 — 5:56 WIB
Dia April 1

JUNAIDI  memang terlalu pede jadi orang. Mengurus dirinya sendiri tidak mampu, kok berani-beraninya punya bini. Akhirnya sama-sama jadi penghuni rumah sosial di Semarang, Junaidi malah membunuh istrinya, Sumarti, 39, pakai air keras. Dalam catatan hariannya dia menulis, dia bunuh istri karena cemburu.

Pepatah lama mengatakan, bayang-bayang hendaknya sepanjang badan. Kalau terlalu memaksakan diri tanpa mengukur kekuatannya, akhirnya terjebak pada pepatah: katak ingin jadi lembu. Contoh soal, untuk mengurus dirinya sendiri saja tidak mampu, kok bisanya berfikir untuk mencari istri. Itu kan sama saja “nyithak kere” nantinya. Memangnya orang berumahtangga hanya sekedar berburu seks gratis?

Kelakuan Junaidi yang asal Kebumen ini seperti itu. Di kampungnya Kemuning, Desa Waluyorejo, Kebumen; dia sudah diuyak minggat alias diusir oleh warga setempat. Soalnya dia jadi beban masyarakat. Misalnya, kalau pinjam duit tidak mau bayar. Jika dipinjami sepeda motor, malah dijual! Karena bunuh orang itu hukukmnya dosa dan masuk penjara, akhirnya warga hanya mengusir Junaidi dari kampung kelahirannya, ketimbang bikin sepet mata.

Di Semarang dia hidup menggelandang, sehingga kemudian ketemu Sumarti yang senasib dengan dirinya, yakni jadi pengangguran tulen. Karena senasib sepenannggung tersebut, Junaidi kemudian mengajak Sumarti “masuk sarung” alias jadi istrinya. Ternyata si cewek mau saja, meski suaminya tak punya masa depan. Dan karena tak punya biaya tersebut, mereka hanya menikah siri di depan ustadz.

Tapi rupanya bagi Junaidi, menikah siri itu sekedar memburu seks gratisan, Sebab setelah puny istri, dia tak membulatkan tekad untuk rajin bekerja. Bahkan sekarang ngontrak rumah saja tidak mampu. Akhirnya tanpa malu-malu dia mendaftarkan diri ke Dinas Sosial Semarang, untuk ditampung di rumah sosial, sebagai tanggungan negara.

Enak dah sekarang Junaidi, tinggal di Balai Resos “Mardi Utomo” Semarang I, Jalan Mulawarman, Kramas, Tembalang. Kerjanya  tiap hari pagi sarapan klepon, malamnya kelon. Tapi ternyata, baru 1,5 bulan di situ dia dapat info bila istrinya punya PIL sesama komplek. Tanpa mencari bukti keberannya, langsung saja istrinya dijagal dan dicekoki air keras. Begitu istrinya wasalam, buru-buru dia kabur.

Saat dia kabur tersebut, HP-nya sempat bunyi karena ditelepon anggota polisi. “Ya, memang saya yang bunuh Suranti. Mau apa?” jawabnya setengah menantang. Tapi ketika diminta menyerahkan diri, dia malah mematikan HP-nya dan kabur ke Kebumen kampung halamannya. Sial dangkalan. Di kampung dia tetap ditolak akibat dosa-dosa lamanya, yakni tukang ngemplang utang dan bawa kabur motor orang.

Junaidi mencoba kabur ke Bandung. Tapi baru sampai pasar Kroya, sudah terkejar polisi Semarang. “Kamu Junaidi ya?” tanya polisi. Jawabnya Junaidi, katanya bernama Jayus. Tapi ketika disuruh menyerah, malah kabur. Akhirnya dia dilumpuhkan pakai timah panas tepat pada dengkulnya. “Saya memang Junaidi Pak.” Akunya kemudian.

Wah, dosamu bertumpuk-tumpuk, untung nggak ditembak kepala. (Gunarso TS)

  • Samsul Roji

    Keenakan dia kalau di tembak kepalanya, nikmati dahulu hotel prodeo……