Monday, 23 July 2018

Ditipu Lembaga Kursus Bahasa Asing, Murid Laporkan Pengelola ke Polisi

Rabu, 8 April 2015 — 6:43 WIB
Sejumlah orangtua murid , calon dan murid satu lembaga kursus bahasa asing yang merasa ditipu melapor ke Polda Metro Jaya

Sejumlah orangtua murid , calon dan murid satu lembaga kursus bahasa asing yang merasa ditipu melapor ke Polda Metro Jaya

JAKARTA (Pos Kota) – Ratusan murid satu lembaga kursus bahasa asing mengaku ditipu, akhirnya mengadukan  pengelola tempat kurus tersebut ke Polda Metro Jaya, Selasa (7/4). “Saya sudah bayar, tapi tidak bisa ikut kursus,” ucap Carolus Spinola, satu calon murid.

Didampingi kuasa hukumnya Cornelius Jauhari,SH,MH, ia menambahkan kalau dirinya sudah membayar Rp1,9 juta kepada lembaga kursus  yang berlokasi di Jalan Gajah Mada itu. “Bayangkan sudah bayar, sesuai dengan janjinya, kok sampai saat ini saya tidak bisa ikut belajar,” katanya.

“Saya juga sudah sempat bayar yang seluruhnya hampir mencapai Rp9 juta, tapi baru beberapa bulan kursus, tempatnya kok, malah ditutup dengan berbagai macam alasan yang katanya mau direlokasi dan korstling listrik lah dan lain sebagainya,” timpal Lie Suzanne B Natalia.

Laporan Carolus, No.TBL/1298/IV/PMJ/Dit Reskrimum ini mewakili delapan murid lainnya dan  bakal menyusul korban lainnya atas dugaan penipun lembaga kursus tersebut. “Ini tak bisa dibiarkan, penyidik harus mengusut tuntas laporan murid-murid tersebut, “ ucap kuasa hukum.

BUKA CABANG

Dalam laporan tersebut, kuasa hukum menyebutkan murid kursus ini ada sekitar 400 orang. “Sebelum membayar, para calon murid ini dijanjikan 10 kursus bahasa terpadu dengan pengajar dari luar negeri.

“Saat itu mereka ada yang ditawari harga hingga Rp9,1 juta per paket selama 16 bulan, yang mulai belajar  dari Januari 2014,” katanya.

Rata-rata mereka baru belajar beberapa bulan, tapi tempatnya sudah ditutup dengan berbagai macam alasan. Bahkan meski sudah ditutup, masih saja pihaknya menawarkan paket kursus tersebut. “Dan berdasarkan hasil penyelidikan klien saya, lembaga ini juga membuka cabang di beberapa tempat seperti di Pejaten, Jakarta Selatan, Bekasi dan Bogor,” katanya.

“Kalau dihitung rata-rata satu murid membayar Rp5 juta saja, apa tidak semua sekitar Rp2 miliar yang didapat pengelola. Belum kalau di tempat lain juga dialami seperti klien saya ini,” katanya.

“Untuk itu saya berharap agar penyidik segera mengusutnya, agar tidak ada lagi korban lainnya,” ucapnya seraya menyebutkan pihaknya sudah menghubungi Fen, pengelola lembaga itu, tapi tak  pernah terhubung. Begitu juga ketika wartawan menghubungi nomor ponselnya, selalu mati.  (wicaksono)