Saturday, 20 July 2019

Pemeran Belanda di Film Tjokroaminoto Bule Australia

Minggu, 12 April 2015 — 16:54 WIB
Lucas01

ANTON Lucanus, warga Australia yang tinggal di Jakarta, ikut berperan dalam film Tjokroaminoto. Inilah film yang mengangkat kehidupan sang pahlawan nasional, Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Di antara kesibukannya di Jakarta, Anton juga turut membantu para tunawisma.

Tanpa audisi, hanya lewat informasi dari seorang teman, Anton Lucanus yang asal Perth ini mendapat peran kecil dalam film Tjokroaminoto yang sedang diputar di bioskop-bioskop Indonesia.

Ceritanya berawal saat film besutan sutradara Garin Nugroho sedang melakukan proses produksi di Yogyakarta.

“Saya mendengar dari teman yang sedang mencari bule yang ada di Yogya. Kemudian mereka melihat foto kita untuk meyakinkan bahwa kita terlihat seperti orang Belanda,” ujar Anton saat dihubungi Erwin Renaldi dari ABC International.

Anton yang kini tinggal di Jakarta sebagai ilmuwan memang tidak mendapat peran yang besar dalam film ini. “Saya hanya berperan sebagai tentara Belanda, paling hanya muncul dalam satu atau dua adegan,” ujarnya.

Tetapi, bukan berarti ia tidak menganggap serius perannya. Anton mengaku ia bahkan sempat melakukan riset dan mencari tahu soal sosok Tjokroaminoto lewat sejarah Indonesia.

“Tjokroaminoto adalah pahlawan nasional dan guru bangsa Indonesia. Ia adalah tokoh yang inspiratif dan telah membantu membangun Indonesia seperti yang kita lihat sekarang ini,” tuturnya mengutip hasil bacaannya tentang tokoh Perintis Kemerdekaan Indonesia itu.

Anton yang mengaku telah belajar bahasa Indonesia sejak usianya masih enam tahun. Tapi saat ia harus berakting di depan kamera, ia tetap merasa gugup untuk menggunakan bahasa Indonesia.

“Untuk adegan saya yang sedikit, butuh waktu hampir seharian dari pagi sampai malam. Saya harus mengatakan ‘Bawa ke sini!’ dan ‘Cabut bendera-bendera itu’ dengan nada marah,” jelasnya.
Anton lucas sehari-harinya bekerja sebagai ilmuwan di Jakarta

Pengalaman lainnya yang tidak bisa dilupakan Anton adalah saat harus berpura-pura marah dan berlagak layaknya seorang bos kepada beberapa warga Indonesia. “Padahal di belakang layar, mereka adalah teman-teman saya sendiri. Jadi rasanya tidak enak hati,” katanya.

Anton pertama kali ke Indonesia saat berusia 15 tahun untuk menjadi relawan. Kini ia pun menjadi salah satu pendiri yayasan non-profit Feed Indonesia yang membantu menyediakan makanan bagi para tunawisma di ibukota.

“Kalau diajak bermain film lagi, mungkin saya mau. Tapi kalau terjun ke industri film, sepertinya tidak, karena saya sedang menikmati kehidupan di Jakarta yang sibuk,” ujarnya. – ABC/d

Anton (tengah) saat berada di lokasi syuting di Yogyakarta. Foto: Pribadi.