Wednesday, 21 November 2018

Istri Ceraikan Suami Meningkat di Purwakarta

Senin, 20 April 2015 — 17:43 WIB

PURWAKARTA (Pos Kota) – Suami ceraikan istri sudah biasa. Di Purwakarta,Jawa Barat, kondisi itu kini terbalik. Istri yang tega melayangkan cerai gugat ke suaminya. Ekonomi menjadi pemantik istri tak ingin berlama lama mengarungi bahtera rumahtangga bersama suami.

Data di Kantor Pengadilan Agama Purwakarta menunjukkan, hingga Maret 2015 tercatat kasus cerai gugat mendominasi kasus perceraian yang disidangkan di Pengadilan Agama Purwakarta. Disusul kemudian, kasus cerai talak yang diajukan suami.

“Hingga Maret 2015, kami telah menangani kasus persidangan cerai 136 kasus. Naik 13 kasus dari Februari 123 kasus dan turun 10 dari Januari 146 kasus,” jelas Staf Informasi PA Purwakarta, Kesih, Senin (20/4).

Kasus cerai gugat Januari 2015 ada 73 kasus, Februari 76 kasus dan Maret 79 kasus. Sedangkan cerai talak Januari 32 kasus, Februari 22 kasus dan Maret 28 kasus.

Diungkapkan, penyebab perceraian didominasi masalah ekonomi. Kemudian selingkuh dan KDRT. Kasus cerai gugat masih menempati urutan pertama. Disusul diurutan kedua kasus cerai talak yang diajukan¬† suami.”Cerai gugat dilakukan para istri kebanyakan penyebabnya karena ekonomi,” jelasnya.

Meski demikian, lanjut Kesih, angka perceraian di Purwakarta masih rendah dibanding Subang, Karawang dan Indramayu.

Praktisi hukum Ruhiat SH mengakui terjadinya fenomena istri cerat gugat suami. “Perkara ini seperti sedang trend dari beberapa kasus perceraian yang disidangkan di PA,”ungkapnya.

Ruhiat yang mengaku kerap menjadi kuasa hukum kliennya seorang ibu rumah tangga melayangkan cerai gugat ke suaminya. “Analisa saya, pemantiknya ekonomi.¬† Penghasilan istri lebih gede dari suami. Atau istri bekerja sedangkan suaminya menganggur,” urai Ruhiat.

Kelompok pemohon cerai gugat dan cerai talak berasal dari kalangan masyarakat umum dan buruh pabrik. (dadan)