Saturday, 17 November 2018

Kegaduhan di Istana Bang Jalil

Senin, 25 Mei 2015 — 1:46 WIB
Dk Mei 25

BANG JALIL  baru saja nonton TV sehabis salat Subuh. Istrinya seperti biasa pagi buta itu langsung ngetem di dapur. Dan seperti biasa pula, kalau uang belanja sudah menipis, sang istri memberi isyarat dengan menabuh perangkat dapurnya. Cukup gaduh!

“ Bu, jangan bikin gaduh dong, nggak enak sama tetangga!” seru Bang Jalil.

“ Nggak usah pikirin tetangga. Pikirin aja rumah tangga sendiri. Sembako naik, emang tetangga mikirin kita?” ketus sang istri.

Bang Jalil nggak mau kegaduhan di rumahnya itu menjadi panjang. Tuh, lihat berita, lagi ada kegaduhan di istana? Para pengamat dan  lawan politik yang  sejak awal diminta ‘mengawal’ dan menegur kalau ada yang nggak beres saling berebut omong. Menteri ini, menteri itu pada bikin kebijakan yang nggak jelas! “ Bikin gaduh aja!”

Tiba-tiba HP Bang Jalil berbunyi, ada yang memanggil;” Ya, halo? Betul, saya Jalil Sujalil, ketua RT, Satpam di satu perkantoran di Jakarta. O, aman. Kalau ada kegaduhan sedikit di istana saya ini, itu mah biasa,” ujar Bang Jalil.

“ Bapak denger kan mau ada reshuffle kabinet? Apa Bapak mau jadi menteri?” suara di sana, terdengar serius, tapi sinis.

“Bapak bercanda? Saya ini kan nggak pinter-pinter amat?” Bang Jalil merendah.

“Menteri itu pembantu, Pak. Ya namanya juga pembantu, nggak usah pinter-pinter-pinter amatlah!” kata suara di sana, masih terdengar sinis.

“ Maksud bapak ?” tanya Bang Jalil.

“Ya, kalau pinter, tapi cuma bikin gaduh?” ujar  lawan bicaranya. Masih sinis.

Bang Jalil tertegun, dan mentup HP-nya. “Hemm, siapa tadi yang telepon, ya? Hemm, jangan-jangan tetangga sebelah, yang mendengar ‘kegaduhan’ di rumah  saya, ya? ” gerutu Bang Jalil sambil menyeruput kopi item yang disediakan sang istri. Diam-diam, dia memuji wanita pendampingnya itu, walau bikin ‘gaduh’ tapi tetap bikin kopi. Hemmm, tapi masih tanpa gula. Pahit!  – massoes