Friday, 21 September 2018

Pameran Batu Akik

Senin, 25 Mei 2015 — 1:29 WIB

Oleh Harmoko

TIDAK sedikit orang berpandangan sinis terhadap fenomena batu akik yang sedang berlangsung di tanah air dewasa ini. Hal yang sama pernah terjadi ketika beberapa tahun silam banyak orang menggilai tanaman hias jenis anthurium atau populer disebut ‘gelombang cinta’.

Waktu itu, masyarakat awam merasa aneh ketika banyak orang berburu tanaman ‘gelombang cinta’ untuk diperjualbelikan dengan harga selangit. Aneh dan tidak ketemu di nalar, bagaimana tanaman yang berupa daun itu bisa berharga jutaan rupiah.

Seiring waktu, demam ‘gelombang cinta’ memudar. Tanaman itu sekarang bisa banyak kita jumpai di pekarangan rumah, tak lagi diburu banyak orang. Fenomena ‘gelombang cinta’ telah berlalu. Muncul fenomena batu akik. Akan setragis ‘gelombang cinta’-kah fenomena batu akik ini? Belum tentu. Kenapa?
Ada perbedaan karakteristik antara tananaman ‘gelombang cinta’ dan batu akik. Hobi terhadap tanaman membutuhkan ketekunan perawatan, yang tidak semua orang mau melakukannya. Artinya, ‘gelombang cinta’ hanya diminati oleh mereka yang hobi terhadap tanaman. Kalaupun ada orang yang tidak hobi ikut terlibat, hanya melihat dari peluang bisnisnya.

Sedangkan hobi terhadap batu akik, meski juga membutuhkan “perawatan” tidaklah serepot merawat tanaman. Secara material, batu mudah dibawa. Kalau tidak diikat menjadi cincin atau liontin, tinggal masukkan saja ke kantong. Sebagai cincin maupun liontin, batu bisa menjadi aksesori penampilan seseorang.

Peminat batu tak hanya mereka yang hobi. Yang tidak hobi, selain melihat peluang bisnisnya, ya itu tadi, ingin menjadikan batu sebagai aksesori penampilan. Sebagai peluang bisnis, batu bisa menciptakan bisnis turunan lain seperti tukang gosok, tukang parkir, tukang pembuat ikatan, dan sebagainya.
Karena perbedaan karakteristik itulah maka fenomena tanaman ‘gelombang cinta’ tidak bertahan lama, sedangkan batu akik sangat mungkin akan bertahan lama.

Tanaman ‘gelombang cinta’ secara signifikan tak sampai menjadi sebuah gerakan ekonomi rakyat. Sedangkan fenomena batu akik telah membuktikan adanya sebuah kemandirian ekonomi dari rakyat untuk rakyat.

Berjuta-juta akik dimunculkan dalam aneka keindahan sebagai bagian dari fenomena alam. Tuhan turun tangan melalui batu-batu kecil untuk memberikan rezeki kepada rakyat ketika para punggawa negara sibuk mengurus hidup dan posisinya sendiri. Ada pengurangan pengangguran lewat berkembangnya jasa mengasah batu dan penjualan akik serta pengikatnya. Tempat-tempat parkir di sentra batu akik tak pernah sepi.

Ketika kemudian Pemprov DKI bekerja sama dengan Pos Kota menggelar Pekan Produk Kreatif Daerah 2015 di Lapangan Banteng, 29 Mei hingga 2 Juni nanti, yang di sana juga akan digelar stan batu akik, tak lebih hal ini sebagai bagian dari upaya menaruh perhatian pada gerakan ekonomi rakyat itu.

Hal yang sama juga telah dan akan digelar di mana-mana. Karenanya, seyogianya  kita tidak melihat fenomena ini dengan pandangan sinis seperi dulu banyak orang sinis terhadap fenomena tanaman ‘gelombang cinta’, kecuali kita mampu menciptakan lapangan kerja. Hidup, ekopnomi rakyat! ( * )

  • Ray Antique Mania

    Fenomena yang berulang.
    Bahkan, demam batu permata sudah terjadi di zaman Rasulullah SAW,
    1.400 tahun yang silam.
    Hadis riwayat Imam Muslim yang menjelaskan bahwa cincin Rasulullah
    SAW terbuat dari perak dan batu mata cincinya berasal dari negeri
    Habasyi.

    Beberapa riwayat menerangkan bahwa Nabi sendiri juga mengenakan
    cincin yang terpasang di jari kelingkingnya sebagaimana hadis riwayat
    Anas bin Malik mengatakan, Cincin Rasulullah terbuat dari perak dan
    batunya merupakan batu Habasyi, (HR Muslim dan Tirmidzi), hadis ini
    diderajatkan hasan sahih, dan dishahihkan oleh Al-Albani.

    Raymond Haryanto