Friday, 20 September 2019

Swasembada Bibit Dulu, Baru Swasembada Pangan

Minggu, 7 Juni 2015 — 22:38 WIB
Bibit Padi Jawa

BOGOR (Pos Kota) – Kalau Indonesia  ingin swasembada pangan, maka harus mulai dengan swasembada benihnya .  Karena rasanya mustahil kita  swasembada pangan jika benihnya tidak ada.

Demikian kata Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (Faperta IPB) Prof.Dr Memen Surahman saat konferensi persnya di Kampus IPB Baranangsiang Bogor.

Menurutnya, banyaknya impor benih ada indikasi bahwa adanya persaingan varietas benih luar negeri lebih unggul dibandingkan dalam negeri atau memang kita belum punya benih unggulnya.

“Terkait dengan impor benih, terutama  pada tanaman pangan, yang diimpor adalah jenis hibrida yaitu padi hibrida dan jagung hibrida. Benih padi hibrida mencapai 12 ribu ton, jagung hibrida 65 ribu ton. Pada tanaman sayuran itu lebih banyak lagi meliputi kentang, bawang merah, kangkung, cabai, kacang panjang, gambas, banyak sekali sampai 21 macam hingga wortel. Impor bahan pangannya juga ada,” katanya.

Dari sisi supply, penyediaan bahan pangan akan ditentukan oleh luas area tanam. Produktivitas yang tinggi, berkaitan dengan benih unggul yang bermutu. “Tetapi dengan jumlah penduduk yang banyak dan tidak terkendali akhirnya produksi tinggi akan kurang juga. Swasembada menjadi berat,” paparnya.

PENGENDALIAN PENDUDUK

Menurutnya, pengendalian penduduk menjadi penting. Menurut data, saat ini tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia mencapai 1,49 persen. Artinya pertumbuhan penduduk sangat pesat. Disisi lain adalah tingkat konsumsi kita terhadap beras tinggi.

Orang Indonesia makan terlalu banyak beras. Totalnya 136 kilogram per kapita per tahun. Kita harus tekan. Vietnam menurut profesor, sudah mampu menekan hingga angka 76 kilogram per kapita per tahun.

“Kita harus turunkan dengan menambahkan sayur, lauk dan buah. Semuanya itu harus kita penuhi sendiri. Saya yakin kalau kita punya keinginan Indonesia bisa, tinggal keseriusannya,”paparnya.
Untuk menyelesaikan permasalahan dan tantangan tersebut diperlukan langkah-langkah strategis. Salah satunya adalah melalui penggunaan benih unggul bermutu.

Benih merupakan input utama yang paling penting dan harus ada sebelum melakukan kegiatan usaha di bidang pertanian.

Melalui penggunaan benih bermutu, produktivitas tanaman akan meningkat sehingga produksi pangan nasional juga akan meningkat.

Selain itu, Prof. Memen juga telah mendapatkan benih kacang koro unggul jenis koro putih atau koro pedang dengan panjang sekitar 30 cm dan berat untuk satu butir 2 gram. Potensi produksi 8-10 ton pada skala penelitian,sedangkan jika diterapkan pada petani dengan rata-rata keberhasilan mencapai 80% nya saja maka produksi bisa mencapai 6-7 ton. “Kacang koro ini bisa mensubtitusi kebutuhan kedelai kita,”ungkapnya. (yopi/d)