Monday, 01 May 2017

Janda Doyan Brondong Digrebek Para Tetangga

Jumat, 12 Juni 2015 — 6:26 WIB
Dia Juni 12

USIA sudah menjelang setengah abad, tapi janda Watinah masih demen brondong. Kalau brondong ketan, nggak masalah. Tapi brondong di sini bermakna: cowok yang 20 tahun lebih muda. Gara-gara terima tamu lelaki sampai larut malam, keduanya pun digerebek. Tapi karena janji sudah kapok, akhirnya mereka berdamai.

Brondong yang terbuat dari ketan atau jagung, memang enak; karena ada rasa manis dan gurih di dalamnya. Ini kesukaan para anak kecil. Tapi di era gombalisasi sekarang ini, yang demen justru kalangan janda. Tapi jangan keliru. Brondong yang tereakhir ini adalah lelaki yang lebih muda puluhan tahun daripada si janda. Tugasnya si brondong memang istimewa, untuk memuaskan hasrat seks si janda yang kesepian.

Bu Guru Watinah yang tinggal di Desa Buduran, Wonosari, Kabupaten Madiun, termasuk janda penggemar brondong. Masih kuatkah dia punya gigi? Kuat saja, lha wong fungsi brondong bukan dikunyah dan dimakan, tapi diajak nemani tidur  dengan segala akktifitasnya. Apa nggak menyenangkan? Habis menyervis Bu Guru SMP ini pulangnya diberi duit untuk pembeli es.

Lama-lama warga jadi jengah dengan kelakuan Watinah dan brondongnya, sebab Rubikan, 30, sebagai cowoknya semakin tidak tahu diri. Masak datang sudah pukul 21.00, pulang-pulang jam 02.30. Langkahnya menjadi tegap, mukanya menatap jauh ke depan. Agaknya baru saja “entuk-entukan” dia. “Mestinya lapor duku dong sama Pak RT,” saran warga yang kesal.

Karena Bu Guru tak mau juga lapor RT, beberapa hari lalu digerebek ramai-ramai. Di sana didapati Rubikan menemani tidur dalam satu ranjang. Memang tidak dalam posisi sedang berbuat, tapi bukti itu sebagai pertanda bahwa telah tejadi perbuatan seribunonoh antara keduanya. Keduanya dibawa ke Polsek Wonosari. Tapi tidak sampai diproses secara hukum, karena Watinah menyatakan kapok dan takkan mengulangi perbuatannya.

Kawini saja langsung, begitu saja kok repot. (BJ/Gunarso TS)