Friday, 18 August 2017

Menteri Agama: Awal Puasa Jatuh pada Kamis, 18 Juni

Selasa, 16 Juni 2015 — 20:54 WIB
Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, dan Ketua Umum MUI, Din Syamsuddin, saat menjelaskan Sidang Isbat. (johara)

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, dan Ketua Umum MUI, Din Syamsuddin, saat menjelaskan Sidang Isbat. (johara)

JAKARTA (Pos Kota) – Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) telah menetapkan awal Ramadhan 1436 H/2015 M jatuh pada hari Kamis, tanggal 18 Juni 2015. Penetapan awal Ramadhan tersebut diputuskan lewat Sidang Isbat yang digelar Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa malam (16/6).

Dengan ketetapan awal puasa yang jatuh pada hari Kamis (18/6), maka umat Islam akan melaksanakan ibadah puasa serentak tahun ini. Sebab sebelumnya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga telah menetapkan awal Ramadhan jatuh pada hari Kamis (18/6).

Sidang Isbat yang berlangsung tertutup itu dipimpin Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin dan dihadiri juga Wakil Ketua Umum KH Ma’ruf Amin, Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Machasin dan pimpinan organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam.

Lukman dalam penjelasannya mengatakan, Sidang Isbat dimulai pk. 18:20 WIB dan sebelumnya adanya pemaparan oleh pakar astronomi Cecep Nurwendaya yang menjelaskan posisi hilal (bulan).

“Posisi hilal tidak hanya dilihat di wilayah nusantara tapi juga seluruh dunia, dan disimpulkan dari pemaparannya, bahwa posisi hilal masih di bawah ufuk sore tadi (Selasa sore) menjelang magrib,” terang Lukman.

Selain itu, lanjut Lukman, dalam Sidang Isbat tadi kita mendapatkan laporan dari 36 pelaku rukyat yang ditugaskan Kementerian Agama tidak ada satu pun yang melihat hilal.

Atas dasar itulah, tambah Lukman, seluruh peserta Sidang Isbat sepakat, maka bulan Syaban diistimalkan (disempurnakan) menjadi 30 hari, sehingga tanggal 1 Ramadhan 1436 H jatuh pada hari Kamis tanggal 18 Juni 2015.

“Dengan hasil Sidang Isbat ini maka mudah-mudahan seluruh umat Islam Indonesia dalam mengawali puasa Ramadhan secara serentak, bersama-sama,” tegas Lukman.

Terkait keseragaman awal Ramadhan dan Awal Syawal ke depan, Lukman kita terus berupaya menyatukan cara pandang kita dalam menetapkan kriteria hilal. “Jadi yang harus diapresiasi adanya semangat untuk menyamakan cara pandang kita pada kriteria seperti apa hilal itu dapat dilihat,” jelas Lukman.

Ia menambahkan sekarang ini kita dapat memulai awal Ramadhan secara serentak karena keberadaan hilal itu sendiri. “Ini karena berkah dari Allah Swt menempatkan hilal sedemikian rupa karena kita bisa bersama-sama memulai awal Ramadhan,” utara Lukman.

Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Yrof DR Hj Chuzaimah Y. Tanggo, mengatakan kita tidak bisa menghilangkan sistem rukyat (melihat) hilal meskipun di tengah era globalisasi sekarang ini.

“Sebab sistem rukyat sesuai hadis Nabi Muhammad Saw, bahwa berpuasalah kamu ketika melihat hilal, begitu juga ketika kita akan memasukki Idul Fitri juga berdasarkan melihat hilal,” papar Chuzaimah.

Ia mengatakan dalam Sidang Isbat kali ini juga kita memadukan sistem hisab dan rukyat, dan alhamdulillah kita dapat mengawali puasa dengan bersama-sama.

Din Syamsuddin mengharapkan Ramadhan ini dapat diisi dengan sebaik-baiknya dalam beribadah kepada Allah Swt, sehingga pada Idul Fitri nanti menjadi umat Islam mendapat predikat yang mutaqin dengan ibadah-ibadah Ramadhan. (Johara)