Tuesday, 25 September 2018

Anak Penyadap Karet Ini Lulus Dengan IPK 4,0 dari IPB

Kamis, 18 Juni 2015 — 17:59 WIB
Wendy mahasiswa yang lulus dari IPB dengan IPK 4,0

Wendy mahasiswa yang lulus dari IPB dengan IPK 4,0

BOGOR (Pos Kota) – Penghasilan orang tua sebagai peyadap karet tak menghalangi prestasi seseorang.
Parara Wendy Indarjo, mahasiswa asal Sampit Kalimantan Tengah ini membuktikan hal ini.

Berbekal beasiswa bidikmisi, Wendy berangkat dari Sampit, Kalimantan Tengah, ke Institut Pertanian Bogor (IPB) di Kota Bogor, Jawa Barat, untuk studi Matematika. Dan akhirnya, ia  lulus dengan IPK sempurna 4.00 dari kampus pertanian terbesar ini.

Wendy, anak kedua dari tiga bersaudara ini lulus empat bulan lebih awal dan meraih gelar cum laude dengan IPK sempurna 4,00. Sebanyak 53 mata kuliah yang diikutinya semuanya memberikan hasil yang memuaskan, semua nilainya A.

Menurutnya, pekerjaan ayahnya yang membersihkan semak belukar di perkebunan, lalu menyadap getah karet di Inhutani, membuatnya terpacu untuk maju.

“Saya sedih lihat bapak potong rumput lalu sadap getah karet untuk kasih hidup kami sekeluarga,”kata Wendy dalam rilis yang dikeluarkan humas IPB, Kamis (18/6).

Parara  Wendy yang bermimpi menjadi birokrat dari kalangan profesional ini sudah meraih berbagai prestasi saat resmi memakai jaket kebesaran IPB.

Prestasi yang sudah diraih seperti, penghargaan sebagai ketua Klub Asrama TPB IPB Terbaik, mahasiswa Berprestasi Asrama TPB IPB, Juara 1 Gumatika Calculus Cup, Juara 2 Lomba Debat Nasionalisme Fateta se-IPB tahun 2012, Juara II Kompetisi Statistika Dasar Statistika Ria tahun 2013, serta pada tahun 2014 Parara berhasil meraih prestasi sebagai Mahasiswa Berprestasi Departemen Matematika IPB, Juara 2 Danone Young Socio Entrepreneur dan Juara 2 Kompetisi Essay Nasional Statistika Ria.

Prestasi yang diraih dalam keterbatasan ekonomi, bahkan terkadang ia mencari penghasilan tambahan dengan menjadi pengajar privat mata pelajaran matematika bagi mahasiswa di Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB, membuatnya mendapat apresiasi dari rektorat.

Ia mengaku, menjadi guru privat, memberinya pendapatan Rp2,5 juta dalam satu semester.

“Menang Lomba Essay Nasional Statistika Ria 2014, itu awal yang membuat saya bangga. Tahun 2011 adalah awal saya kuliah di IPB. Sudah berulang kali saya coba ikut kompetisi essay, tapi selalu gagal. Saat kali ini lolos dan menjadi pemenang, saya bangga. Terimakasih untuk bapak Gubernur Kalimantan Tengah,”katanya bersyukur.

Pemuda asal Sampit ini juga aktif baik sebagai ketua klub asrama maupun bergabung dalam pergerakan aktivis lembaga dakwah kampus. Doa dari kedua orangtuanya, Parara Wendy yakin, bisa mengantarkannya menempuh ilmu lagi ke luar negeri.  (yopi)