Wednesday, 14 November 2018

Puasa dan Kepedulian Sosial

Kamis, 18 Juni 2015 — 4:48 WIB

Oleh Harmoko

HARI Kamis ini umat Islam mulai menjalani ibadah puasa, di tengah harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Apa boleh buat, puasa sejatinya memang tak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga ujian kesabaran, keikhlasan, dan ujian dari hawa nafsu apa pun.

Kenaikan harga kebutuhan pokok bolehlah kita anggap sebagai ujian pula. Bagaimana tidak? Harga ayam, misalnya, menjelang puasa tahun lalu Rp23.000 per ekor, pada puasa kali ini mencapai Rp36.000. Telor ayam yang pada puasa tahun lalu Rp16-18.000, kali ini menjadi Rp24.000. Kacang tanah yang tahun lalu Rp16.000, puasa tahun ini jadi Rp27.000.

Bagi orang berduit, kenaikan harga seperti itu tentu tidak menjadi masalah, berbeda dengan mereka yang kurang beruntung. Tetapi, ujian tetaplah berlaku bagi siapa pun, baik bagi orang yang berada maupun bagi yang kurang berada, yakni ujian keimanan.

Ada dua dimensi ujian keimanan kita selama menjalani ibadah puasa, seperti sering diingatkan oleh ustad dan ustadzah, yakni menjaga hubungan kita dengan Allah s.w.t. sebagai ujian ketakwaan dan ujian yang berhubungan dengan sesama manusia. Ibadah puasa tak saja berdimensi ritual, tetapi juga sosial.

Dalam derajat ketakwaan tertentu, tingkat kepedulian sosial kita selalu diuji. Apalagi selama menjalani ibadah puasa, kita diuji untuk memiliki kepekaan dan kepedulian sosial, ikut merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang serba kekurangan.

Rasa lapar dan haus adalah bagian dari hidup keseharian mereka. Hanya untuk sesuap nasi, misalnya, banyak di antara mereka tidak memiliki kepastian apakah hari ini bisa mendapatkannya atau tidak.

Ketika kita menahan lapar dan dahaga, kita ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang sulit mendapatkan makanan karena biaya kebutuhan hidup yang semakin tinggi. Dari sinilah bisa tumbuh rasa empati antarsesama.

Selain ada kewajibkan membayar zakat, rasa empati bisa kita wujudkan dengan melakukan amalan lain. Bukankah amalan apa pun yang kita kerjakan selama bulan Ramadan akan dimuliakan oleh Allah s..w.t.? Rasulullah bersabda, “Siapa yang mampu di antaramu untuk bersedekah, maka lakukanlah, walaupun dengan sebiji kurma. Siapa tidak punya harta, maka dengan kalimah Thayyibah.” (HR. Muslim).

Intinya adalah, dalam menjalani kewajiban ibadah puasa, kita memasuki fase awal ketakwaan kita kepada-Nya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menunjukkan kepada kita tentang sesuatu yang diridai dan dicintai-Nya. Amin. ( * )