Friday, 21 September 2018

Harapan di Awal Puasa

Sabtu, 20 Juni 2015 — 5:50 WIB

Oleh S Saiful Rahim

“KAU puasa nggak, Dul?” tanya orang yang ada di dalam warung Mas Wargo. Entah siapa dan yang mana.

“Astaghfirullah. Dari masih ingusan aku sudah dididik orangtuaku bukan hanya puasa, tapi juga sembahyang dan mengaji. Kalian harus tahu, orang Betawi kalau menimang-nimang atau mengayun anak sambil nyanyi. Syairnya begini: Indung-indung Siti Aise, mandi di kali rambutnye base. Nggak sembahyang nggak puase, nanti di kubur pasti disikse.

Jadi, hampir mustahil orang Betawi gak puasa. Cuma ada juga yang berpuasa kendang. Artinya cuma di awal dan akhir Ramadan saja dia terpuasa. Tengahnya bolong, kayak kendang. Ada juga yang puasa beduk. Depannya saja yang tertutup, belakangnya terbuka,” jawab Dul Karung sambil tangannya  mencomot singkong goreng.

“Kau sendiri mempraktikkan puasa apa? Kendang atau beduk?” tanya orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung, yang sebelumnya bergeser memberi tempat si Dul duduk.

“Alhamdulillah, selalu sebulan lengkap,” jawab Dul Karung agak pongah.

“Kalau orang yang berpuasa dengan disiplin pada siang hari, malamnya boleh berutang gak, Dul?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang yang cuma satu di warung Mas Wargo.

“Mungkin itu kurang baik,” jawab Dul Karung dengan irama tutur yang agak dilambankan. Ketika ada orang yang ingin memotong dengan perkataan entah apa, si Dul buru-buru bilang, “Tapi menolak orang berutang pada Bulan Puasa, jauh lebih buruk.” Beberapa orang pun meresponsnya dengan senyum yang dikulum.

“Aku merasa dari tahun ke tahun Bulan Puasa sama saja. Dari segi ibadah, insya Allah aku selalu berusaha  menjadikannya lebih baik. Tapi di luar ibadahnya tidak ada perubahan. Maksudku mau mudik Lebaran, jalan tetap macet. Harga-harga menjelang dan selama Bulan Puasa, melambung. Rakyat mengeluh tapi pemerintah tetap tidak mampu mengatasinya,” keluh orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo.

“Tapi bagiku Bulan Puasa selalu membawa harapan. Tahun ini misalnya, untuk yang mau mudik Lebaran, jalan tol baru sudah membentang dan siap dipakai. Soal harga-harga pangan? Presiden selain mengeluarkan Keppres, juga telah memerintahkan para menteri menyerahkan rencana kerja enam bulan ke depan.”

“Tapi apa hubungannya rencana kerja menteri enam bulan ke depan dengan harga-harga yang melambung terus?” potong seorang hadirin sebelum Dul Karung menyudahi ucapannya.

“Siapa tahu, karena takut dicopot, para menteri berlomba mencari jalan dan cara untuk menurunkan harga sembako,” kata Dul Karung seenaknya.

“Ah, omongan dan alasanmu gak nyambung Dul,” celetuk orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Daripada omongan para Wakil Rakyat yang terhormat itu? Rakyat lagi bingung mikirin harga kebutuhan hidup melambung, mereka malah ribut ngomongin dana aspirasi, Itu lebih gak nyambung,” tanggap Dul Karung sambil ngeloyor meninggalkan warung dengan begitu saja. (syahsr@gmail.com )