Saturday, 20 October 2018

Utang Indonesia Rp3.000 Triliun

Sabtu, 20 Juni 2015 — 0:21 WIB
Rupiah

Rupiah

JAKARTA (Pos Kota) – Utang luar negeri pemerintah Indonesia kini mencapai Rp3.000 triliun. Saat ekonomi dalam negeri lagi kacau, pemerintah jangan tergiur bujuk rayu Bank Dunia dan IMF yang menawarkan pinjaman baru.
“Ini merupakan perangkap,” kata pengamat ekonomi politik, Ichsanuddin Noorsy, kepada Pos Kota, Jumat (19/6).
Mereka ingin menjajah kembali ekonomi bangsa ini dengan menawarkan pinjaman baru yang sudah mereka siapkan. Pihak asing kini sudah menguasai ekonomi dalam negeri. Ini terbukti semua pasar mereka kuasai hingga Indonesia sangat ketergantungan pada produk impor.

IMPOR INVESTASI
Tak hanya impor barang, tapi juga impor investasi. Ini bisa dilihat dua minggu lalu saat asing menarik investasi dari surat berharga negara (SBN) 2,6 miliar dolar AS, nilai tukar rupiah langsung anjlok ke level Rp13.350.
“Kalau Presiden Jokowi tergiur tawaran, ekonomi Indonesia semakin masuk dalam perangkap mereka,” tandasnya.
Tidak mustahil nilai tukar rupiah bisa menembus level Rp14.000/dolar AS. Sehingga ancaman krisis ekonomi semakin nyata. Ia melihat pemerintah bisa menghindari situasi ekonomi yang memanas ini dengan berbenah diri. Ibarat kondisi ekonomi di rumah lagi carut-marut, apakah orang lain boleh mengacak-acak. (setiawan/rf/ird)

Hal berbeda diutarakan Purbaya Yudhi Sadew, utang luar negeri sebenarnya tidak ada masalah, sepanjang digunakan untuk membiayai kegiatan.  “Jika digunakan untuk membiayai kegiatan, maka produk domestik brutto (PDB) masih bisa mengcover,” kata pengamat ekonomi, Purbaya Yudhi Sadewa, Jumat (19/6).

“Rasio utang pemerintah terhadap PDB ini tidak seberapa besar dibanding Amerika Serikat (AS), Jepang dan negara lainnya,” terangnya.

Jadi pemerintah sebenarnya bisa mengembalikan utang luar negeri tersebut, jika penerimaan pajak dan lainnya sesuai yang ditargetkan.

Tapi karena penerimaan yang didapatnya tak sesuai target, akhirnya pemerintah tidak bisa mengangsur utang. “Jadilah utang makin besar,” jelasnya.

Akibat utang luar negeri pemerintah ini masih tinggi, ia mengungkap akhirnya menimbulkan sentimen negatif hingga membuat situasi ekonomi di dalam negeri makin gonjang-ganjing.

“Banyak pihak menuding masalah utang luar negeri ini membuat pertumbuhan ekonomi melambat, nilai tukar rupiah makin anjlog dan sebagainya,” katanya. (setiawan)