Wednesday, 21 November 2018

Musibah itu Juga Nasihat

Senin, 6 Juli 2015 — 1:55 WIB
DK Juli 6

BANG JALIL menarik napas panjang, menghembuskan napas secara panjang pula. Lumayan, sedikit lega. Belakangan ini, memang rongga dadanya terasa sesak karena peristiwa demi peristiwa yang terjadi. Seperti musibah pesawat jatuh yang memakan banyak korban.

“ Musibah lagi terjadi di negeri ini,” gumam Bang Jalil yang sedang ngabuburit di depan pesawat TV, “ Kasihan para korban ya?”

“ Kita doain aja Pak, buat para korban meninggal, mudah-mudahan mendapat tempat di sisi Allah SWT. Orang seperti kita ini kan nggak bisa membantu yang lain, kecuali membantu doa,” ujar istri Bang Jalil, ikut berkomentar, sambil sibuk menyiapkan hidangan buka puasa.

“ Tapi, Bu…Bapak tetap prihatin..” ujar Bang Jalil.

“ Melihat musibah seperti ini semua prihatin,” ujar sang istri, “ Tapi begini Pak, hidup, mati, lahir, rezeki dan jodoh di tangan Tuhan. Soal kematian misalnya, itu sudah pasti, tidak bisa dimajukan dan dimundurkan atau ditunda barang sedetik pun. Jadi musibah itu juga nasihat, Pak, “ ujar sang istri.

Bang Jalil tersenyum dalam hati. Sejuk juga mendengar kata-kata sang istri yang arif. Ya, maklum selama puasa rajin mendengarkan syiar agama. Mudah- mudahan, dia juga menjadi istri yang sabar dalam kekurangan. Ya, seperti menuntut ‘tambahan’ uang belanja, begitu?

“ Sudahlah,Pak. Nggak usah ikut mikirin. Lihat tuh, para pejabat yang berwenang kan sudah pada sibuk? Bapak tahu kan, kalau lagi begini semua jadi panik? Bukan musibah ini saja, banyak musibah di negeri ini yang bikin panik dadakan. Musibah banjir misalnya, para yang berwenang repot. Nah, sekarang lagi musim panas, mereka lupa deh, memperbaiki saluran?”

“Istigfar Bu, lagi puasa,” kata Bang jalil mengingatkan sang istri.

“ O, iya maaf Pak. Tapi, soal uang belanja lebaran, boleh nggak nggak boleh harus ada!” ujar sang istri.

“ Hemm, musibah lagi,deh,” gumam Bang Jalil. – massoes