Tuesday, 13 November 2018

Polisi dan Rasa Aman

Senin, 6 Juli 2015 — 5:23 WIB

Oleh Harmoko
 
SELAMA ini ada pemahaman di tengah masyarakat, polisi dikatakan berhasil kalau bisa menangkap tersangka tindak kriminal. Padahal, keberhasilan polisi bukan soal menangkap atau tidak, melainkan soal rasa aman dan nyaman di masyarakat.

Hal itu sejalan dengan butir ketiga doktrin Tribrata Polri: senantiasa melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat dengan keikhlasan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban. Doktrin ini selalu aktual, apalagi jajaran Polri baru saja memperingati Hari Bhayangkara, 1 Juli lalu.

Sebagai pelayan, pelindung, dan pengayom masyarakat, polisi harus berusaha mewujudkan situasi aman dan tertib dalam masyarakat. Usaha itu diwujudkan dengan upaya-upaya pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya gangguan kamtibmas, sehingga masyarakat dapat merasa aman dan nyaman.

Untuk itu, kegiatan preventif lebih penting ketimbang represif. Kegiatan preventif bisa berupa kegiatan pengaturan, penjagaan, pengawalan, patroli, selain kegiatan deteksi dini terhadap kemungkinan munculnya gangguan kamtibmas.

Langkah represif memang dibutuhkan. Tetapi, melakukan langkah pencegahan sesungguhnya jauh lebih utama. Kehadiran polisi melakukan patroli di tengah masyarakat sehingga penjahat mengurungkan niatnya, misalnya, merupakan bagian dari upaya pencegahan tindak kriminal yang sangat layak disebut sebagai keberhasilan.

Tak saja karena menjelang Lebaran seperti hari-hari ini, peningkatan kegiatan patroli diharapkan bisa menekan tingkat gangguan keamanan dan tindak kejahatan. Sekarang, masalahnya tinggal bagaimana kualitas kegiatan patroli itu.

Pada kenyataannya, kita sering melihat bahwa kegiatan patroli dilakukan seadanya, sekadar berkeliling, bahkan juga terjadwal. Hal seperti itu sangat mungkin telah ditandai oleh penjahat sehingga pada jam-jam tertentu mereka mengurungkan niatnya. Tetapi, setelah jam-jam tertentu lewat dan polisi sudah tidak berpatroli, aksi kejahatan baru dilakukan.

Kita percaya, jajaran kepolisisn sejatinya telah memiliki manajemen yang baik dalam menjalankan fungsi dan tugasnya.  Masalahnya tinggal pada pelaksanaannya.  Pelaksanaan operasi pada waktu tertentu dengan sasaran, organisasi, dan strategi yang jelas, dengan perencanaan yang baik, diharapkan bisa memperoleh hasil optimal. Dengan demikian, pelaksanaan kegiatan patroli tidak sekadar untuk menggugurkan kewajiban pada saat jam dinas.

Ketika langkah preventif telah dilakukan kemudian ada langkah represif setiap ada gangguan, maka masyarakat diharapkan semakin merasakan manfaat kehadiran polisi. Muaranya adalah terciptanya kehidupan yang aman, nyaman, dan tenteram. ( * )