Friday, 20 July 2018

Dialog di Ambang Ngabuburit

Sabtu, 11 Juli 2015 — 9:22 WIB
DK Juli 11

BANG AJALIL  ngabuburit, sambil menonton TV yang kebetulan sedang menyiarkan berita,’ KPK tangkap hakim terima suap’, di Medan. Lelaki paruh baya itu sampai sulit  berfikir.

“Dimana ya pikiran mereka? Jadi pejabat, punya kedudukan, dan pastinya penghasilannya juga  besar, kok masih korupsi?” bisik hati Bang Jalil.

“ Itu namanya nggak tahan dengn godaan syetan!” ujar istri Bang Jalil, seolah olah tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya.“ Syetan lagi diikat, tapi masih mampu menggoda manusia. Gimana kalau dilepas,ya Pak?”

“ Ya pada pesta. Korupsinya berjamaah,”

“ Kan sudah banyak contoh, tapi nggak pada mengambil hikmah!”

“ Nggak bersyukur, serakah!”

“ Untung, aku nggak jadi pejabat, ya Bu?” ujar Bang Jalil sambil melirik istrinya yang lagi sibuk di dapur.

“ Ooo, kalau disuruh memilih, ibu sih tetap kepingin punya suami pejabat,”

“ Hemm, tapi apa Ibu mau kalau jadi koruptor.ditangkap KPK?”

“Kan nggak semua pejabat begitu, Pak. Ada juga yang lurus-lurus aja, baik, jujur dan bijaksana, memegang amanah rakyat!” kata sang istri.

“ Kalau pejabat kayak begitu semua, negara makmur, rakyat sejahtera!” ujar Bang Jalil.

“ Ya, nggak seperrti sekarang ini. Rakyat selalu saja dibikin terkaget-kaget oleh kenaikan harga. Nih, mau lebaran, sembako naik, daging naik!” kata sang istri.

“Ya, udah nggak usah beli daging, Bapak kan makan tempe tahu aja,” kata Bang Jalil.

“ Ini Lebaran,Pak. Bapak jadi orang jujur boleh boleh saja, tapi masa iya, makan daging aja nggak boleh?” kata sang istri.

“Bukan begitu, tapi daripada darah tinggi kumat?” kata Bang Jalil.

“ Lebaran rumah sakit masih buka,Pak.” kata sang istri sambil tersenyum.

“Memang Bapak disuruh sakit?”

“ Kalau disuruh memilih, lebih baik Bapak nginep di rumah sakit, dari pada di tahanan KPK? Heheheheee…” sang istri terkekeh. Bang Jalil tersenyum kecut! ..   -massoes