Wednesday, 14 November 2018

Ngobrol Sama Bini Orang, Kena Koral 10 Truk

Sabtu, 11 Juli 2015 — 9:19 WIB
Dia Juli 11

SRIASIH,  30, bukan konsultan, tapi ngobrol-ngobrol lama dengannya bisa kena cash 10 truk batu koral. Kok bisa? Ya bisa saja! Kalau nggak percaya tanyakan pada Haryadi, 30, warga Jember (Jatim). Dia ngobrol dengan Sriasih di kala suaminya tak di rumah, langsung digerebek warga. Kalau tak mau jadi urusan polisi, harus bayar 10 truk koral. Oo….begitu.

Konsultan itu mahal bayarannya,  lebih-lebih bidang hukum (pengacara). Satu jam konsultasi bisa kena cash 500 dolar AS. Maka mereka yang jadi alpukat top seperti Hotman Paris dan OC Kaligis, kaya raya. Beda dengan buah advokat, sekilo hanya Rp 20.000,- Kalau dicampur es dan susu, lumayan buat seger-seger saat berbuka puasa.

Nah, Haryadi warga desa Jombang, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember (Jatim), betul-betul kena batunya. Dia hanya ngobrol lama dengan wanita cantik Sriasih malam hari, eh dipaksa bayar denda batu koral 10 truk. Ketimbang benar-benar jadi urusan polisi, Haryadi pun pililih membayarnya, meski itu berarti dia harus rogoh kocek dalam-dalam sampai Rp 5 jutaan.

Haryadi memang masih bujangan. Sudah lama berburu jodoh, tapi belum dapat juga. Kok belum lama ini kenal dengan Sriasih warga Desa Wonorejo Kecamatan Jombang. Ceweknya cantik dan sesuai benar dengan seleranya. Maka begitu dia memberikan alamat rumah, Haryadi langsung mampir. Tapi ternyata Sriasih sudah punya anak dan suami, hanya kepala rumahtangga itu bekerja di Kalimantan.

Sebetulnya dia tak mau datang lagi ke rumah Sriasih, tapi perempuan itu selalu mengundangnya main, meski sekedar ngobrol. Ngobrol dengan perempuan cantik yang juga supel, memang mengasyikkan. Maka Haryadi pun meski tanpa motif dan target tertentu sering main ke rumah Sriasih. Waktunya malam hari, karena di siang hari sibuk oleh pekerjaan kantor.

Ternyata kunjungan rutin Haryadi ini menjadi catatan warga. Kalau sekedar tamu biasa, kok datang rutin. Yang paling mencurigakan, kenapa musti malam hari, padahal suami Sriasih tak di rumah. Dugaan pun menguat, Sriasih – Haryadi punya hubungan khusus, jangan-jangan malah sudah hubungan intim.

Beberapa hari lalu Pak RT pun mengerahkan warganya untuk menggerebek pasangan yang mencurigakan itu. Saat rumah itu dikepung, ditemukan Sriasih – Haryadi hanya duduk-duduk biasa di ruang tamu. Padahal pikiran warga sudah kadung ngeres: pasti keduanya sedang bugil bak oncek-oncekan singkong, berbuat mesum di kamar.

Isin mundur (pantang malu), keduanya segera diarak ke rmah Pak RW. Meski keduanya tidak dalam posisi berbuat, tapi bertamu malam-malam pada istri orang yang sedang ditinggal suami merantau, sudah termasuk cacat moral. Itu layak mendapat peringatan Pak RT selaku penguasa wilayah.

Setelah berembug dengan tetua desa, keduanya pun dikenakan sanksi adat, membayar denda 10 truk batu koral. Matrial tersebut nantinya mau dipakai untuk perbaikan jalan lingkungan. Itu sekedar opsi. Jika tidak sanggup, penyelesaian hukumnya di kantor polisi. Tapi resikonya, pelaku bisa ditahan. Padahal belum melakukan sesuatu.

Ketimbang berpanjang-panjang masalah, Haryadi terpaksa menyanggupi setor koral. Ketimbang dibawa ke polisi, salah-salah bisa ditahan. Kan kacau. Tapi dia berani sumpah bahwa tidak ada tindakan tak terpuji atas Sriasih yang bini orang itu.

Makin banyak penggerebekan, jalan kampung cepat jadi. (Gunarso TS)