Saturday, 20 October 2018

Mengenakan Rompi Tahanan KPK, Mantan Walikota Makassar Peluk Putranya

Senin, 13 Juli 2015 — 18:37 WIB
Tersangka mantan Wali Kota Makassar llham Arief Sirajuddin memakai rompi tahanan dikawal petugas usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta

Tersangka mantan Wali Kota Makassar llham Arief Sirajuddin memakai rompi tahanan dikawal petugas usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta

JAKARTA (Pos Kota) – Mantan Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin kembali diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan korupsi terkait kerja sama kelola dan transfer untuk instalasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Makassar tahun 2006-2012‎, Senin (13/7).

Ilham enggan memberikan banyak komentar meski dihujani banyak pertanyaan oleh awak media massa. Ia hanya mengatakan, pemeriksaan yang dijalani kali ini tidak berbeda dengan pemeriksaan sebelumnya. “Pemeriksaan biasa saja,” ujarnya, di kantor KPK pukul 16:30.

Sebelum keluar, Ilham yang mengenakan rompi tahanan KPK berwarna oranye terlihat memeluk seorang putranya dan beberapa kerabat yang menunggunya di lobi Kantor KPK. Saat itu mata bekas orang nomor satu di Pemkot Makassar tersebut tampak berkaca-kaca.

Pemeriksaan ini merupakan yang kedua bagi Ilham. Sebelumnya, ia juga diperiksa, Jumat (10/7). Usai pemeriksaan tersebut, Ilham langsung ditahan di Rutan Pomdam Jaya, Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Sebelum ditahan, Ilham mengklaim dirinya tidak bersalah. Menurutnya, kesalahan hanya dilakukan oleh PT Traya Tirta, atau pihak ketiga dalam kerja sama pengelolaan instalasi PDAM Makassar. Diketahui, terkait kasus ini, KPK telah menetapkan Direktur Utama PT Traya Tirta Makassar, Hengky Widjaja, sebagai tersangka. “Pihak ketiga, swasta PT Traya Tirta,” pungkasnya.

Ilham dan Hengky ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, pada 7 Mei 2014. Dia kerap mangkir dengan berbagai alasan saat penyidik memanggilnya untuk diperiksa sebagai tersangka. Salah satunya beralasan sedang menjalankan umroh di Arab Saudi dan mesti menjalani pemeriksaan kesehatan di Singapura.

Selain itu, dia juga dua kali mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Pada praperadilan pertama ia  menang dan statusnya tersangkanya dianulir oleh hakim PN Jaksel, Yuningtyas Upiek. Namun, KPK akhirnya kembali menerbitkan surat perintah penyidikan (Sprindik) baru dan kembali menetapkannya sebagai tersangka dalam kasus yang sama.

Namun, upaya praperadilan keduanya tidak berjalan mulus. Seluruh permohonan Ilham pada praperadilan kedua itu ditolak oleh hakim PN Jaksel, Amat Khusairi. Dalam pertimbangannya, Hakim Amat menilai penetapan tersangka Ilham Arief, sah dan telah memenuhi dua alat bukti yang cukup.

Kemudian, Hakim Amat juga membantah dalil pemohon yang menganggap status penyelidik dan penyidik KPK tidak sah. (yulian)