Monday, 18 December 2017

Berulangkali Bawa Wanita Bukan Muhrimnya ke Rumah

Senin, 20 Juli 2015 — 5:07 WIB
Dia Juli 20

SAAT istri lama di kampung, Nurhakim, 40, malah merasa bebas merdeka. Tanpa malu sama tetangga, sebentar-sebentar bawa wanita non muhrim ke rumah. Dibawa malam, baru besok paginya dilepas. Lama-lama warga mencium aksi bejat Nurhakim, sehingga pada bulan puasa kemarin itu keduanya digerebek.

Jika kehidupan rumahtangga mulai jenuh, itu tanda sendi-sendi perkawinan mulai rapuh. Banyak suami yang kemudian diam-diam mencari tokoh alternatif untuk mengusir kejenuhan itu. Dan ketika istri lama tak di rumah, justru dianggap sebuah kemerdekaan berekspresi dan berereksi. Maka Nurhakim dari Aceh Barat ini misalnya, tanpa memikirkan resiko belakang hari, selama istri tak di rumah dia sering “impor” perempuan ke dalam kamarnya.

Sudah berminggu-minggu istri Nurhakim pulang kampung, dengan alasan orangtua sakit. Sesekali Nurhakim memang sudah menengok, tapi sebagai pegawai, mana mungkin bisa perleng (libur) berlama-lama. Karenanya, dia merelakan saja istrinya berlama-lama di kampung, karena sang mertua yang sakit lebih nyaman ditunggui istri Nurhakim. “Kalau ibumu belum sembuh nggak usah pulang dulu, aku juga bisa hidup mandiri kok, ” kata Nurhakim meyakinkan bininya.

Memang sejak ditinggal istri di kampung, hidup Nurhakim harus seperti sabun ditergen: mencuci sendiri untuk urusan pakaian. Begitu pula soal makan, dia harus masak sendiri atau jajan di warung. Namanya lelaki, paling praktis cuma goreng telur. Maka pagi dan malam seringkali Nurhakim hanya makan dengan lauk goreng telur ayam negri. Pada bulan Ramadhan kemarin, buka dengan telur goreng, sahur juga dengan menu yang sama.

Soal makan nasi atau urusan perut memang masih mudah diatasi. Tapi urusan yang di bawah perut, ini yang repot. Sejak istri lama di kampung, dia jadi kesepian sekali karena lama tak bisa “ngetap olie” ibaratnya Vespa. Tak mampu mengekang hasratnya, diam-diam Nurhakim sering membawa perempuan ke rumah. Habis tarawih mestinya tadarusan di mesjid, eh…..dia malah selimutan di kamar dengan perempuan non muhrim.

Cewek itu didatangkan sekitar pukul 21.00 dan nanti dilepas sekitar pukul 04.30 menjelang subuh. Yang “diimpor” memang berganti-ganti. Rata-rata cantik dan masih muda, lebih-lebih tanpa dikenakan bea masuk. Jadi Nurhakim merasa makin leluasa melampiaskan syahwatnya.

Tapi lama-lama para tetangganya di Johan Pahlawan, Aceh Barat, mencium praktek tak terpuji Nurhakim. Ini sama saja melecehkan warga kampung. Bagaimana mungkin, di negeri yang disebut “Serambi Mekah” kok ada manusia yang jadi praktisi permesuman. Apa tidak takut pantatnya habis dicambuk polisi WH (Wilayatul Hisbah)?

Warga dan tokoh masyarakat setempat berembug bagaimana bisa bikin jera Nurhakim itu. Maka beberapa malam lalu, warga mulai siap-siap ketika melihat pemilik rumah membawa perempuan. Dibiarkan saja masuk dulu, dan 20 menit kemudan barulah digerebek. Pintu digedor-gedor, lama baru dibuka oleh Nurhakim yang kala itu hanya mengenakan celana kolor. Sedangkan perempuannya, Ida, 19, di kamar dalam kondisi setengah bugil. Mungkin saja keduanya baru “warming up”.

Keduanya segera digelandang keluar, diserahkan ke polisi WH Johan Pahlawan. Selain bakal kena sanksi aparat pemerintah, nantinya Nurhakim dan perempuanya bisa kena sanksi adat di kampung itu.

Sudah dicambuk, masih diwajibkan setor batu kali satu truk. (Gunarso TS/d)