Tuesday, 20 November 2018

Sikap PB Al Washliyah Terkait Peristiwa Tolikara

Jumat, 24 Juli 2015 — 13:34 WIB
Foto- Ketua Umum PB Al Washliyah, Dr.H.Yusnar Yusuf. (ist)

Foto- Ketua Umum PB Al Washliyah, Dr.H.Yusnar Yusuf. (ist)

JAKARTA (Pos Kota) – Banyak versi tentang terjadinya kerusuhan di Kabupaten Tolikara, Papua. Kerusuhan yang terjadi saat umat Islam melaksanakan salat Idul Fitri pada 1 Syawal 1436 H yang bertepatan dengan 17 Juli 2015. Jemaah yang sedang menunaikan ibadah Salat Ied dibubarkan dengan paksa dan terjadi pembakaran masjid.

Terkait ini, Ormas Islam Al Jam`iyatul washliyah (Al Washliyah) melalui Ketua Umum Pengurus Besar Al Washliyah, Dr. H. Yusnar Yusuf, MS mengeluarkan pernyataan sikap atas peristiwa yang menimpa umat muslim di Tolikara, Papua.

“Kejadian yang menimpa saudara muslim kami di Tolikara adalah perbuatan kriminal dan intolernsi. Konstitusi memandatkan kebebasan dalam menjalankan ibadah tanpa terkecuali, siapapun bebas menjalankan ibadah,” tegas Yusnar Yusuf melalui siaran persnya di Kantor PB Al Washliyah, Jl Jenderal Ahmad Yani, Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat.

Atas peristiwa itu, Ormas Islam Al Washliyah menyatakan sikapnya dalam mengawal dan menjaga NKRI dengan segenap potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh umat.

Pertama, belajarlah dari konflik sosial yang berujung konflik Agama di Ambon tahun 2000 silam, kala itu umat Islam diserang dengan senjata pada 1 Syawal.

Kedua, mengecam pelarangan salat Idul Fitri 1 Syawal 2015 yang berujung pada penyerang dengan batu hingga pembubaran salat dan pembakaran masjid.

Ketiga, menyerukan kepada umat Islam di Indonesia senantiasa waspada dan siaga dalam menghadapi berbagai tindakan anti ukhuwah dan kerukunan beragama.

Keempat, senantiasa berkoordinasi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat dan aparat keamanan jika ada indikasi gerakan kekerasan terhadap aktivitas agama, masjid, majelis taklim, madrasah, pesantren serta rumah umat Islam.

Kelima, meminta kepada pemerintah untuk menangkap dan mengadili para pelaku pembubaran dan kekerasan pada jemaah Salat Idul Fitri. Juga meminta pemerintah untuk terus-menerus membangun kerjasama sosial keagamaan dan melindungi minoritas.

(rilis/sir)