Saturday, 29 April 2017

Janda Itu Dicangkulnya Dulu Baru Menyusul Gantung Diri

Senin, 27 Juli 2015 — 6:23 WIB

KAYAK anak muda saja, Mbah Drono, 60, masih dilamun cemburu. Tahu janda idaman hatinya, Sawitri, 53, menjalin cinta dengan lelaki lain, dia jadi mata gelap. Soalnya rencana nikah habis Lebaran jadi berantakan. Saking kecewanya, janda nan seksi itu dikepuruk cangkul, baru Mbah Drono ikutan gantung diri.

Ternyata api asmara yang menyala-nyala bukan hanya milik kawula muda. Sudah kakek-kakek pun masih memiliki hasrat dan nafsu yang luar biasa. Ketika ada pesaing dalam kisah cintanya, rasa cemburu pun timbul. Padahal mustinya, sesuai dengan kondisi pisiknya yang mulai renta, urusan cinta-cintaan itu tak perlu “ngaya” atau memaksakan diri. Sebab survey membuktikan, moril dan onderdilnya tak lagi berbanding lurus. Istilahnya paling pas: nafsu besar tenaga kurang!

Mbah Drono warga Kerek Kabupaten Tuban (Jatim) rupanya tak menyadari kondisi pisik sebenarnya. Usia sudah kepala enam, masih merasa seperti masih umur 40 tahun saja. Ngakunya masih rosa-rosa kayak Mbah Marijan. Bahkan kalau ditanya orang usianya berapa Mbah, jawabnya klasik: “Puser ke atas enam puluh, puser ke bawah tujuh belas tahun!”

Sayangnya, meski semangat dan gairahnya masih begitu tinggi, tak ada lagi medan penyaluran. Soalnya sudah lama dia hidup menduda. Akibat perceraian atau ditinggal mati istri, tidak ada laporannya. Yang pasti belakangan Mbah Drono ini sibuk pacaran dengan janda Sawitri, warga yang masih satu kecamatan. Jika keduanya boncengan sepeda motor, wihhh…….seperti kisah Rama dan Sinta saja. Lupa bahwa rambutnya sudah meninggalkan warna hitam.

Keduanya sudah sepakat akan naik ring selepas Lebaran 1436 H ini. Resepsi pernikahan digelar secara “climen” alias sederhana saja. Sebab Mbah Drono punya prinsip, tidak perlu publikasi, yang penting “eksekusi”. Maklumlah, sudah hampir lima tahun ngempet (menahan nafsu). Bisa dibayangkan kan, bagaimana rasanya Vespa yang tidak pernah “ngetap olie” itu?

Ungkapan lama mengatakan, manusia berencana Tuhan yang menentukan. Ini pula yang terjadi. Ketika hari H sudah ditentukan, eh ada informasi bahwa Sawitri malah pacaran dengan lelaki lain. Meski sudah kakek-kakek, rasa cemburunya langsung menyala-nyala. Dia tak mau cinta dan kekasihnya direbut lelaki lain. Orang Jawa punya pepatah: sadumuk bathuk senyari bumi (baca: urusan perempuan dibela sampai mati).

Bathuk Sawitri memang licin menggemaskan, apa lagi yang lain. Kok sekarang mau dirampas pihak lain, enak saja! Mbah Drono segera mendatangi rumah Sawitri untuk klarifikasi informasi yang berhembus. Ternyata Sawitri membenarkan, dia memang sudah punya kekasih yang baru. Karenanya hubungannya dengan Mbah Drono dibubarkan. “Mumpung isih padha wutuhe (mumpung masih sama-sama suci).” Kata Sawitri seenaknya.

Mbah Drono yang merasa dicampakkan jadi emosi, tapi Sawitri tak menggubris. Kebetulan di situ ada cangkul teronggok di pojok ruangan. Langsung saja diambil dan dikeprukkan ke kepala Sawitri. Tanpa sempat menghindar, janda malang itu langsung ambruk dan tewas seketika, dengan kepala remuk. Mbah Drono yang sudah frustasi segere ambil tali dan menyusul gantung diri dalam rangka bunuh diri. Polisi Polres Tuban menyatakan perkaranya dinyatakan selesai, karena pelakunya tewas.

Di alam sana apa masih bisa jalan bareng, ya? (BJ/Gunarso TS)