Wednesday, 19 September 2018

Ingin Menjadi Istri yang Jujur Malah Rumahtangga Hancur

Kamis, 30 Juli 2015 — 5:22 WIB
Dia Juli 30

DEMI kejujuran antara suami istri, Fitri, 40, sejak kali pertama hidup berumahtangga dengan Ratno, 42, terus terang bahwa sudah tidak perawan lagi. Ternyata itu justru jadi obsesi sang suami. Meski nampaknya menderima kondisi istri, di luar Ratno selalu selingkuh dengan target menikmati kegadisan.

Bohong demi kebaikan dan keamanan, dibolehkan dalam agama. Maka ustadz pun dalam nasihatnya ada yang mengajarkan, meski sudah tidak perawan jangan bercerita pada suami. Sebab bila suami tidak menerima, akan menjadi awal malapetaka bagi sebuah rumahtangga. Maunya membentuk keluarga sakinah, malah jadi keluarga yang selalu bermasalah.

Rupanya pengakuan jujur Fitri sekitar 15 tahun lalu, harus dibayar mahal. Ketika hendak menjalani malam pertama setelah resepsi pernikahan, wanita warga Benowo Surabaya itu mengaku jujur pada Ratno bahwa sebetulnya sudah tidak perawan lagi karena pernah hubungan intim dengan kekasih pertamanya. Maksud Fitri adalah, apa artinya rumahtangga sakinah bila diawali dengan kebohongan.

Ratno yang malam itu kadung ngebet banget dengan kecantikan istrinya yang kini sudah menjadi halalan tayiban wa asyikan, hanya mengiyakan saja. Selanjutnya serangan umum non 1 Maret 1949 itu dilakukan dar der dor sampai berhenti sendiri tanpa campur tangan PBB. Cuma setelah itu, asal ada masalah sedikit saja Ratno mengungkit-ungkit masa lalu Fitri yang sudah tidak segelan plastik di malam pertama.

Sebetulnya tersinggung juga Fitri atas sikap suaminya tersebut. Tapi demi keutuhan rumahtangga dan menjaga perasaan anak-anak, dia tak mengambil hati atas segala hinaan suaminya nyinyir itu. Dia memaklumi saja. Pikirnya, nanti lama-lama kan capek sendiri. Buktinya, manakala Ratna “memerlukan” juga sama sekali lupa akan kondisi awal istrinya dulu.

Yang sama sekali di luar dugaan Fitri, ternyata Ratno itu lelaki pendendam. Kelihatannya di rumah baik-baik saja pada bini, tapi di luar dia jadi rajanya selingkuh. Yang jadi sasaran adalah para muridnya di SMA. Ketika ditanyakan kenapa tega berbuat begitu, jawab Ratno sangat menyakitkan. “Habisnya, kamu dulu tidak perawan. Sebagai lelaki kan saya ingin menikmati keperawanan itu.”

Fitri pun tak berkutik. Tapi lain hari ada saja sejumlah orangtua yang mendatangi rumahnya, minta pertanggungan jawab Ratno karena putrinya sudah digauli. Sebetulnya Fitri rela saja dimadu, tapi para orangtua murid yang tidak mau. Bahkan sebagian terima nasib, karena tidak tega lihat kondisi rumahtangga Fitri bersama anak-anaknya.

Tapi kesabaran Fitri tak menyebabkan Ratno jadi sadar dan kapok. Terus saja dia berganti-hanti cewek hanya untuk mengejar kegadisan. Karena tak tahan lagi pada kelakuan suami, kini Fitri menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya.

Istri sudah sabar, suami yang terus kurang ajar! (Gunarso TS)