Wednesday, 21 November 2018

Ikan di Setu Cilodong Dijarah, Walikota Depok Diminta Bertindak

Selasa, 4 Agustus 2015 — 6:12 WIB
Ngubek Setu di Cilodong memang menjadi pavorit saat 17 Agustusan (illustrasi)

Ngubek Setu di Cilodong memang menjadi pavorit saat 17 Agustusan (illustrasi)

DEPOK (Pos Kota) – Walikota Nur Mahmudi Ismail dikirimi surat terbuka oleh Forum Komunitas Hijau Depok (KHD) dan diminta rasa kepeduliannyaterhadap penjarahan ikan-ikan di Setu Cilodong oleh LPM Kalibaru Cilodong. Keduanya sepakat berharap Walikota tidak meninggalkan bom waktu tentang setu-setu di Depok.

Bagi koordinator KHD, Heri Syaefudin, memohon kepada Walikota Mahmudi beserta jajaran pemangku kebijakan terkait setu khususnya Cilodong yang telah dirusak oleh orang-orang yang tidak ingin melihat Depok kembali asri dan hijau. Mulai Setu Jatijajar, Cilodong, Studio Alam TVRI hingga Setu Cilangkap. “Perusakan ekosistem setu terjadi karena kegiatan bernama Ngubek Setu, yang sama sekali tidak mendidik,” ujar Heri dalam surat terbuka yang diunggah dalam situs jejaring sosial.

Hal senada diungkap ketua Lembaga Pengembangan Masyarakat (LPM) Kalibaru Cilodong, Burhanudin. Ia menyesalkan ketidaksigapan dan kepekaan pemangku kebijakan pemerintah mulai walikota cq dinas terkait, camat, lurah, terhadap penjarahan ikan sekaligus merusak habitat ekosistem setu Cilodong. “Para penjarah itu berpura-pura ikut kegiatan aksi bersih, yang berlanjut ngubek setu, dan tidak perduli kendati sudah diperingatkan untuk keluar dari setu,” ujarnya kepada wartawan kemarin.

Penjarahan Setu Cilodong pada Minggu (2/8) pagi itu diawali beredar kabar diadakannya aksi bersih Setu Cilodong. Tapi kenyataannya aksi bersih itu berlanjut dengan menguras ikan-ikan di dalamnya termasuk benih-benih ikan. Katanya, para penjarah itu mendengar kegiatan Ngubek Setu di Jatijajar dan berlanjut Setu Cilodong. “Sebagai warga Cilodong kami terkejut. Apalagi ternyata orang-orang yang datang berjumlah ratusan orang itu bukan warga setempat atau pun orang Depok melainkan Cilangkap, Cipayung, Sidamukti, Cikaret.” (rinaldi)