Sunday, 24 September 2017

Djarot Mengklaim Jumlah Warga Miskin di Jakarta Menurun

Jumat, 7 Agustus 2015 — 5:34 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

GAMBIR (Pos Kota) – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat mengatakan tingkat kemiskinan di Ibukota tahun 2015 ini menurun signifikan dibandingkan tahun 2014. Secara  prosentase, tingkat kemiskinan di Jakarta tahun ini sebesar 3,53 persen, turun 0,56 persen.

“Tingkat kemiskinan di DKI Jakarta memang paling rendah secara nasional, yakni masih di bawah lima persen. Tapi apakah dengan data ini membuat kita bertepuk dada? Tidak. Karena kemiskinan di Ibukota mempunyai karakter yang berbeda dari daerah lain. Penanganan kemiskinan di Jakarta lebih sulit dibandingkan daerah lain,” kata Djarot saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Penanggulangan Kemiskinan DKI Jakarta di Balaikota, Gambir, Kamis (6/8).

Menurut.  data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, tercatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2013 mencapai 352.960 orang atau sebesar 3,55 persen. Kemudian pada September 2013, jumlah penduduk miskin naik  menjadi 371.700 orang atau 3,72 persen. Namun  tahun 2014, pada bulan Maret, kemiskinan meningkat lagi menjadi 3,92 persen atau mencapai 393.980 orang. Kemiskinan  semakin meningkat pada September 2014 mencapai 412.790 orang atau mencapai 4,09 persen.

Namun data tahun ini mulai menunjukkan penurunan di bawah 4 persen. “Kalau sekarang masih di level 3,53 persen.  Mudah-mudahan tahun depan bisa dikurangi lagi menjadi 3 persen. Untuk itu, kita perlu terus-menerus melakukan upaya penurunan tingkat kemiskinan,” ujarnya.

Kendati belum mendapatkan data yang pasti, Djarot yang juga mantan anggota DPRD Jawa Timur ini memprediksikan kantong-kantong kemiskinan di Jakarta ada di pemukiman padat. Dia memperkirakan Jakarta Pusat dan Jakarta Timur yang paling banyak jumlah warga miskin. Sedangkan Jakarta Selatan dinilainya paling rendah jumlah warga miskin.

“Saya belum tahu datanya. Tapi kalau kita melihat kantong-kantong kemiskinan, kita bisa tahu di pemukiman padat, yang sekarang sering terjadi tawuran. Salah satunya ada di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur. Yang paling rendah Jakarta Selatan kali ya,” tuturnya.

Untuk itu, Djarot  menginstruksikan lurah harus mendata warga miskin di wilayahnya masing-masing. Pendataan tersebut guna mendapatkan kebijakan dan program yang tepat untuk melakukan penanggulangan kemiskinan di DKI Jakarta.

“Yang mengetahui persis kondisi warga miskin adalah para lurah. Karena mereka sebagai urban manager yang bersentuhan langsung dengan warganya. Lurah yang paling tahu mobilitas orang miskin di sana. Karena itu, lurah punya peranan penting untuk mendata, menginventarisir dan memonitoring untuk mencari sumber utama mengapa mereka miskin,” kata Djarot. (Joko)