Sunday, 18 November 2018

Dipastikan Disalah-gunakan

16 Siswa Tidak Lagi Berhak Terima KJP

Sabtu, 8 Agustus 2015 — 9:35 WIB
Siswa penerima KJP (ist)

Siswa penerima KJP (ist)

JAKARTA (Pos Kota) – Sebanyak 16 siswa penyalahguna dana Kartu Jakarta Pintar (KJP) dipastikan akan dicabut jatah bantuan sekolah oleh Pemprov DKI. Bahkan Dinas Pendidikan (Disdik) juga mengancam siswa lain yang coba-coba membelanjakan dana tersebut untuk kepentingan non-sekolah.

“Saya ingatkan kepada seluruh siswa penerima KJP, termasuk orangtuanya,  jangan sekali-kali membelanjakan dana KJP untuk kepentingan. Sebab, seluruh transaksi pembelanjaan tercatat secara detil oleh Bank DKI, sehingga kami langsung tahu,” tandas Kepala Disdik DKI Jakarta, Arie Budhiman, Jumat (8/8). Kalau terbukti dibelanjakan di luar kepentingan pendidikan, Arie memastikan akan mencoret jatah KJP di bulan berikutnya.

Menurutnya, uang KJP hanya untuk keperluan pendidikan, seperti perlengkapan sekolah, seperti baju, sepatu, tas, buku, pulpen, termasuk transportasi dan sejenisnya. “Kalau dana KJP dipakai buat beli bensin sampai Rp 700 ribu, emas beberapa gram, atau HP mahal, itu tidak dibenarkan. Lebih baik, jatah mereka dialihkan kepada siswa miskin lain yang belum kebagian KJP,” papar Arie, mantan Kadis Pariwisata DKI.

Saat ini pihaknya masih mendalami kasus penyalahgunaan dana KJP, baik yang dilakukan oleh siswa maupun orangtuanya. “Berdasarkan laporan dari Bank DKI sebenarnya ada 20 orang yang melanggar, tapi kami baru memeriksa 16 kasus, dengan memanggil kepala sekolah, guru, walimurid, dan siswa. Para pelanggar ini dipastikan akan dicoret dari penerima KJP. Masih banyak siswa lain yang membutuhkan,” ujar Arie.

Daftar penerima KJP mulai dari SD sampai SMA, sebanyak 489 ribu siswa, baik sekolah negeri maupun swasta. Disdik saat ini membuka kesempatan kepada siswa miskin yang belum menerima KJP. Pihaknya memperkirakan masih ada 80 ribuan siswa miskin yang belum kebagian. Bantuan KJP kini menggunakan rekening bank yang terkoneksi teknologi informasi, sehingga transaksi tercatat jelas. Bantuan itu hanya boleh digunakan untuk pembelian perlengkapan sekolah. Adapun pengambilan uang tunai diatur hanya Rp 50 ribu/minggu untuk SMP dan SMA. Sedangkan SD hanya Rp 50 ribu/dua minggu. (Joko)

  • PLOKIS

    MASIH BANYAK KOK KJP YANG DISALAHGUNAKAN & TIDAK TEPAT SASARAN. COBA DI DATA ORTU MASING2 SISWA, PEKERJAAN & DIFOTO RUMAHNYA, KLU RUMAHNYA LAYAK HUNI YA WAJAR JGN DIKASIH KJP….. PERLU DUKUNGAN & PERAN GURU, RT, RW & KELURAHAN YG INDEPENDEN YG TDK PILIH KASIH UTK PENERIMA KJP YG BENAR2 MISKIN & LAYAK MENERIMA…… SEMANGAT YA AGAR DI REVIEW KEMBALI UTK PENERIMA KJP!

  • karedok

    Jangan semuanya diberikan KJP hanya yg kurang mampu yg gajinya dibawah 5 juta per bulan
    agar tdk salah sasaran

  • jonathan

    Inilah sifat Bangsa kt dikasih enak,malah kaga karu2an,lagian ini pemerintah terlalu sok kaya ,pake KJP2 segala,bebaskan uang sekolah,transportasi gratis khusus pelajar,sdh cukup,kl mau kasih perlengkapan sekolah,jgn berupa uang,ya pasti bablas

  • adam bahtiar

    Sebetulnya buat pembelajaran prioritas utama pendidikkan, bukan buat beli di luar keperluan sekolah. Cabut saja kyknya, ini bibit korupsi, buat sekolah dah di salahgunakkan