Sunday, 23 September 2018

Pidato dan Kerja

Sabtu, 15 Agustus 2015 — 6:29 WIB

Oleh S Saiful Rahim

“Alhamdulillah, besok genap 70 tahun kita merdeka. Insya Allah sebentar lagi kita akan hidup di negeri yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerto raharjo,” kata Dul Karung sambil melangkah masuk ke warung kopi Mas Wargo.

Seperti biasa, sebelum duduk tangannya mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Apa maksudmu bicara dicampur-campur dengan bahasa ibunya Mas Wargo, Dul? Apa kau paham maknanya, tu? Aku kuatir Mas Wargo pun sudah lupa apa arti kata-kata tersebut, meski itu bahasa ibu atau bahasa daerahnya sendiri,” sambut orang yang duduk di dekat pintu masuk sambil bergeser memberi tempat untuk si Dul.

“Aku pun tak tahu persis maknanya. Cuma aku ingat kalimat itu keluar dari mulut Bung Karno, satu-satunya presiden kita yang menurutku memiliki apresiasi dan kecintaan yang tinggi terhadap kebudayaan bangsa,” jawab Dul Karung sambil mengunyah singkong gorengnya dengan lahap.

“Betul. Setiap 17 Agustus Presiden Sukarno berpidato dengan bahasa yang baik, isi yang membakar semangat hidup rakyat. Sehingga bila Bung Karno pidato, baik setelah beliau menjadi presiden maupun sebelumnya, orang-orang berdatangan ke tempat beliau menyampaikan wejangannya itu,” tanggap orang yang duduk selang empat di kanan Dul Karung.

“Karena presiden pertama kita jago pidato, maka bangsa kita pun rata-rata pandai, atau setidak-tidaknya senang, berpidato,” sambung orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang yang cuma satu, dan satu-satunya bangku yang ada di sana.

“Iyalah. Terutama yang merasa dirinya pemimpin atau pejabat. Sehingga pada masa yang disebut “zaman Orde Baru,” ketika rakyat bosan mendengar pidato, banyak pejabat yang dalam pidatonya berteriak-teriak, “Rakyat sudah bosan mendengarkan pidato, saudara-saudara. Rakyat kini mau bukti. Mau melihat pemimpinnya bekerja. Dan semua itu dikatakannya dalam pidato. Nah aneh kan?” Kata orang yang duduk selang empat di kanan Dul Karung itu lagi dengan sinis.

“Sekarang rakyat masih sinis atau tidak, bila mendengar pemimpin berpidato,” tanya Dul Karung tiba-tiba.

“Wah, itu sudah tidak menjadi perhatikanku lagi. Sebab aku sudah jarang mendengarkan pidato,” jawab orang itu seraya membayar segala apa yang dimakan dan diminumnya, lalu dia melangkah keluar warung.

“Kalau aku masih suka mendengar walau tidak sengaja mendengarkan, pidato. Nah, ada yang membuat aku bertanya-tanya bila mendengar pidato sekarang ini,” sambar orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Apa itu?” kata entah siapa dan yang mana.

“Setelah mengucapkan kata “assalamu alaykum wa rahmatullahi wa baraktuh,” dia lalu mengucapkan ”salam sejahtera buat kita semua.” Apa maksud ucapan “salam sejahtera” dan seterusnya itu?” kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang itu.

“Gitu aja kok gak tahu,” kata orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung dengan tegas.

“Maksudnya ingin memberi salam yang adil. Bukan cuma untuk yang beragama Islam saja,” sambung orang itu.

“Siapa yang bilang salam dengan kata “assalamu alaykum” itu hanya untuk orang Islam? Itu salam untuk semua orang. “Alaykum” itu artinya “untuk kalian.” Kalau khusus untuk orang Islam kalimatnya “assalamu alalmuslimun.” Jadi “assalamu alaykum” itu tak perlu ditambah lagi dengan “salam sejahtera untuk kita semua.” Kalau ditambah justru mengesankan diskriminatif. Karena salam untuk non-muslim itu diucapkan belakangan,” kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Wah, kalau urusan begini aku gak mau campur deh,” kata Dul Karung sambil ngeloyor pergi meninggalkan warung. (syahsr@gmail.com)