Monday, 24 September 2018

Peserta BPJS Ketenagakerjaan Bertambah

Jumat, 21 Agustus 2015 — 13:21 WIB
*ist

*ist

SURABAYA (Pos Kota) – Kepesertaan program jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan bertambah 67.019 perusahaan pada semester I 2015. Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek) Elvyn G Masassya mengatakan kondisi ini akibat perbaikan sistem, penambahan benefit serta outlet dan pemahaman lebih baik tentang jaminan sosial, baik oleh pengusaha dan pekerja.

“Penambahannya dua kali atau 282,81 persen lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” kata Elvyn G dalam acara Sosialisasi Era Baru Jaminan Sosial Ketenagakerjaan dan BPJS Ketenagakerjaan Fair yang diselenggarakan Kantor wilayah Jawa Timur Kamis malam (20/8).

Secara umum, penambahan kepesertaan mengalami peningkatan sebesar 68,34 persen untuk pekerja penerima upah (PPU) dan 106,72 persen untuk pekerja bukan penerima upah (PBPU) dibandingkan hasil yang dicapai semester I 2014. Demikian pula sektor konstruksi yang mencapai 115,83 persen dari periode yang sama tahun 2014.

Dampak positifnya, lanjut Elvyn, penerimaan iuran meningkat mencapai Rp 15,46 triliun pada bulan Juni 2015 atau mencapai 122,73 persen dari periode sebelumnya tahun 2014.

Adapun total dana investasi per 30 Juni 2015 mencapai Rp 194,93 triliun atau setara dengan 83,66 persen dari RKAT 2015. Jumlah ini meningkat dari dana investasi di periode yang sama tahun 2014 sebesar 15,90 persen (YoY).

BUKAN PENERIMA UPAH

Sementara itu Direktur Kepesertaan dan Hubungan Antar Lembaga BP Jamsostek Junaedi menambahkan, pada era baru, jaminan sosial menggenjot penambahan pekerja informal atau bukan penerima upah (BPU) sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Pekerja pada kategori ini merupakan para pekerja yang bekerja pada sektor informal, di antaranya nelayan, tukang ojek, pedagang pasar, petani, loper koran, dokter, notaris dan lain sebagainya.

“Mereka diwajibkan mengikuti dua program, yaitu program jaminan kecelakaan kerja (JKK) dan program jaminan kematian (JK). Peserta BPU juga bisa secara sukarela mengikuti program jaminan hari tua (JHT) dan program jaminan pensiun,” jelas Junaedi.

(tri/sir)

  • Peduli bangsa

    Menurut pendapat saya bahwa kanaikan kepersetaan BPJS bertambah bukan karena pelayananya, yang jelas bagi pekerja malah bertambah rugi dalam hal pembayaran jaminan maupun pelayananya.
    pertama pembayaran pekerja dulu nggak dipotong sekarang dipotong 1% dari gaji pokok dan untuk pelayanananya masih bagus Jamsostek disbanding BPJS semua sudah jelas nggak usah dijelaskan lagi .
    jadi kesimpulanya nambah bukan karena baik pelayananya tetapi perusahaan dipaksa ikut , kalau bebas mendingan cari jaminan kesehatan yang lain dan kedua nggak pilihan lain oleh pemerintah .