Monday, 22 October 2018

Pasar Saham Asia Terus Menurun

Senin, 24 Agustus 2015 — 15:47 WIB
Investor belum percaya terhadap kemampuan Cina dalam menstabilkan pasarnya meski ada upaya terus-menerus dari Beijing

Investor belum percaya terhadap kemampuan Cina dalam menstabilkan pasarnya meski ada upaya terus-menerus dari Beijing

BEIJING- Pasar saham Asia jatuh lagi pada Senin (24/08) di tengah kekhawatiran investor akan melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina.

Nikkei 225 di Jepang, yang merupakan pasar saham terbesar di Asia, turun 2,4% di poin 18.963,53 – level terendah dalam lima bulan.

Investor belum percaya terhadap kemampuan Cina dalam menstabilkan pasarnya meski ada upaya terus-menerus dari Beijing.

Pada akhir pekan, Cina berencana untuk mengizinkan dana pensiun untuk berinvestasi pertama kalinya di pasar saham.

Dalam aturan baru tersebut, dana pensiun boleh berinvestasi sampai maksimal 30% aset bersihnya ke saham-saham yang terdaftar secara domestik.

Langkah ini adalah upaya terbaru dari pemerintah Cina untuk menahan penurunan bursa saham negara tersebut.

Dana tersebut boleh berinvestasi bukan hanya pada saham, tapi juga pada serangkaian instrumen pasar termasuk derivatif. Dengan meningkatkan permintaan atas produk-produk tersebut, pemerintah berharap harganya akan meningkat.

Simon Littlewood, presiden di firma konsultan bisnis ACG Global mengatakan pada BBC bahwa ada kekhawatiran terhadap ekonomi terbesar kedua dunia “sudah kehabisan trik karena dalam beberapa bulan terakhir mereka sudah berusaha membuat ekonomi mereka lebih cair”, namun masih gagal dalam menenangkan pasar.

Dalam beberapa pekan terakhir, indeks saham gabungan Cina turun 12%, sehingga total mengalami penurunan 30% sejak Juni.

Penurunan tajam itu menyebabkan penjualan saham global, dengan Dow Jones di Amerika Serikat mengalami kerugian 6%, dan FTSE 100 di Inggris mencatat kerugian terbesar dalam sepekan mencapai 5% sepanjang tahun ini.

Awal bulan ini, bank sentral Cina mendevaluasi yuan sebagai cara untuk mendorong ekspor.

Di Australia, S&P/ASX turun 2,2% ke level 5.098,80 pada penjualan Senin pagi.

Di Korea Selatan, indeks Kospi mengikuti tren kawasan, dibuka 0,4% lebih rendah pada level 1.869,13.

Dan Senin (24/8) ini, pasar saham di Timur Tengah juga turun drastis.
IMF: ‘Tak ada krisis’

Pada akhir pekan, Dana Moneter Internasional (IMF) mengeluarkan pernyataan tentang penjualan saham global dalam upaya menghindari panik berlebihan di pasar.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina dan jatuhnya nilai saham bukanlah krisis tapi penyesuaian “yang perlu” untuk ekonomi, menurut pejabat senior IMF pada Minggu (23/8).

“Masih terlalu awal untuk berbicara ada krisis di Cina,” kata direktur eksekutif IMF Carlo Cottarelli yang mewakili negara-negara seperti Italia dan Yunani, lewat sebuah konferensi pers.

Dia mengulangi lagi prediksi pengutang internasional yang memperkirakan peningkatan ekonomi Cina sebesar 6,8%, di bawah level 7,4% yang mereka capai pada 2014.

Pada Jumat (21/08), angka-angka menunjukkan aktivitas pabrik di Cina pada bulan Agustus menyusut dalam skala tercepat enam tahun terakhir.

Angka ini muncul setelah data resmi Cina menunjukkan perlambatan ekonomi yang terus terjadi. Dalam tiga bulan sampai akhir Juli, ekonomi negara tersebut tumbuh 7% jika dibandingkan setahun sebelumnya, terendah sejak 2009.(BBC)