Friday, 16 November 2018

Hidupkan Kembali Pasar Seni Ancol Dari Mati Suri

Selasa, 25 Agustus 2015 — 7:56 WIB
Foto- Pasar Seni Ancol. (ist)

Foto- Pasar Seni Ancol. (ist)

JAKARTA (Pos Kota) –  Pasar Seni Ancol dulu dikenal sebagai tempat nongkrongnya musisi, artis, pelawak dan seniman lain.

 

Beberapa orang kemudian berinisiatif membuat acara rutin. Dicetuskan oleh Sri Honggowongso, Soemarno Samin, Didik Heru, Edi Darmanto  dan Ali Dunggio  terselenggaralah Friday Jazz Nite (FJN) sejak tahun 1975.

 
Nama-nama besar di dunia musik jazz lahir dari event rutin ini, seperti Bill Saragih, Vonny Sumlang, Bubi Chen. Ada juga Idang Rasyidi, Ireng dan Kiboud Maulana, Jack dan Indra Lesmana, Pattisilano Bersaudara, Abadi Soesman, Elfa Secioria, Karimata, Audiensi band, Krakatau dan masih banyak nama lainnya.

 
Sementara untuk seniman, di Pasar Seni Ancol ini pernah ada pelukis Affandy, Kartika Afandy dan lainnya, termasuk musisi Mbah Surip.
Tapi itu dulu. Sekarang kejayaan Pasar Seni Ancol tinggal kenangan. Panggung masih tetap ada, tetapi teronggok bisu. Kios-kios seniman yang jumlahnya lebih dari 130 itu, juga masih ada, tetapi tak secerah dulu. Para seniman hanya berkarya di situ, lalu bertransaksi di luar.

 
“Ibarat kata Pasar Seni ini sedang mati suri,” begitu kata Olivia Hendrietta, Marketing Manager TIJA, saat berbincang santai dengan Pos Kota di Pasar Seni. “Nah, sejak dua bulan lalu, kita sedang berusaha menghidupkan kembali Pasar Seni dari mati suri,” katanya lagi.

 
Maka, pengelola Pasar Seni pun mulai berbenah. Dari mulai pembangunan fisik hingga menggelar berbagai program. Para seniman Pasar Seni pun dilibatkan untuk menghidupkan kembali lokasi tersebut.

 
“Kita buat program edukasi seni setiap Sabtu dan Minggu, masyarakat umum bisa belajar di sini. Dan setiap bulan kita gelar  porseni,” kata Olivia.
Selain itu, wisata kuliner pun dihidupkan. Berbagai kuliner Nusantara tersedia di banyak stand dengan harga mulai Rp 5000-an. Begitu juga dengan panggung musik.

 

(anggara/rf)