Thursday, 20 September 2018

Dollar Naik, Pengerajin Tahu-Tempe Ketar-ketir

Rabu, 26 Agustus 2015 — 18:13 WIB
Tempe hasil produksi pengrajin di Kopti Semanan tengah dijemur. (tarta)

Tempe hasil produksi pengrajin di Kopti Semanan tengah dijemur. (tarta)

CENGKARENG (Pos Kota) – Menguatnya nilai Dolar Amerika Serikat (AS) terhadap  rupiah membuat pengrajin tahu tempe di Komplek Kopti Semanan, Kalideres, Jakarta Barat (Jakbar) mulai mengatur strategi. Mereka siap-siap mengurangi ukuran tahu tempe produksinya, kalau kenaikan harga Kedelai  semakin tak terbendung.

andoko, pengrajin tahu tempe yang juga pengurus Kopti Semanan mengaku sebenarnya hingga saat ini, naiknya Dolar AS yang mencapai Rp 14.000/dolar belum berpengaruh terhadap usaha pengrajin. Karena sebagian besar membeli Kedelai lewat koperasi Kopti yang mengimpor sendiri.

“Sebenarnya belum ada pengaruhnya, produksi juga masih sesuai standar. Tapi kalau memang dolar terus menguat dan harga kedelai juga makin tinggi, mau tidak mau akan mengurangi ukuran tahu dan tempe produksinya,” kata Handoko, Rabu (26/8).

Diakuinya, dalam 2 minggu terakhir ada kenaikan harga beli kedelai, dari awalnya Rp 6.900/Kg  naik jadi Rp 7.100/Kg untuk yang membeli di koperasi. Sedangkan yang membeli diluar koperasi naik dari Rp 7.000/Kg jadi Rp 7.400/Kg. Namun, kenaikan tersebut tidak berpengaruh terhadap produksi pengrajin.

“Justru sejak naiknya harga daging sapi dan ayam, permintaan masyarakat akan tahu tempe untuk dijadikan lauk semakin banyak. Setiap harinya produksi di Kopti mencapai 60 ribu ton lebih,” jelas Handoko.

Solikhin,  pengrajin tempe lainnya juga mengaku naiknya dolar Amerika belum berpengaruh terhadap usahanya. Meski harga kedelai naik, namun dirinya tetap memproduksi tempe dan tidak menaikkan harganya. “Kami tidak menaikkan harga, ukuran tempe juga masih standar dan tidak ada pengurangan ukuran,” ucapnya.

Sekretaris Kopti Semanan, Wartoyo menambahkan saat ini masih punya stok kedelai sebanyak 500 ton untuk dua atau tiga bulan. Namun, agar stoknya tidak terputus, Kopti akan terus mengimpor. “Sekarang ini Kopti bisa mengimpor kedelai sendiri sesuai kebutuhan, sehingga kami tidak mengalami gonjang ganjing lagi,” ujarnya. (tarta)