Monday, 26 August 2019

Gunakan Paspor Orang Lain, Calhaj asal Bogor Diperiksa Imigrasi

Kamis, 27 Agustus 2015 — 17:35 WIB
Paspor

Paspor

BEKASI (Pos Kota)- Aksi nekat seorang jamaah calon haji (Calhaj), menggunakan paspor milik orang lain berakhir ke ranah hukum.

Selain Zaenal Arifin, 42, Calhaj asal Kabupaten Bogor, yang tergabung dalam Kelompok terbang (Kloter) 13  gagal menunaikan ibadah haji, yang bersangkutan juga diperiksa di kantor Imigrasi Bekasi, Kamis (27/8).

Kepala Kantor Imigrasi Kelas III Kota Bekasi, Is Edi Eko Purwanto mengatakan, Zaenal Arifin merupakan calon jemaah haji yang ikut rombongan pemberangkatan kloter 14 dari Jawa Barat. Dirinya, diketahui memakai Paspor milik orang lain saat ada pengecekan kelengkapan administrasi Kamis (27/8) dini hari sekitar pukul 02.30. Padahal, seharusnya pukul 05.30 pagi, pesawat  diberangkatkan dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.

“Tadi pagi kita tangkap, rupanya dia berusaha berangkat haji menggunakan paspor milik orang lain,” ungkapnya, Kamis (27/8).

Menurut dia, Zaenal Arifin membawa paspor yang tidak sesuai dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya. paspor yang ia bawa tercantum nama Abdulah Ishak. Padahal, kelengkapan administrasi merupakan syarat utama pemberangkatan haji.

Is mengatakan, pemilik paspor asli, Abdulah Ishak, diketahui menderita sakit keras yang mengakibatkan dirinya tak bisa berangkat menunaikan ibadah haji. Oleh pihak Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Kabupaten Bogor,  akhirnya Zaenal Arifin ditawari berangkat haji menggantikan Abdulah Ishak dan menggunakan Paspor milik Abdulah Ishak. Padahal, sesuai ketentuan hal itu dilarang.

“Walaupun orang itu tidak jadi berangkat harusnya tidak boleh digantikan begitu saja. Apa lagi berangkatnya pakai paspor milik orang lain,” jelasnya.

Hasil pemeriksaan sementara, Zaenal mengaku kalau Ia bisa masuk rombongan kloter 14 Jawa Barat atas bantuan seorang pengurus KBIH Kabupaten Bogor, Abdul Rahman Nasran, 53. Tidak hanya itu, Zainal pun bisa masuk ke dalam rombongan jemaah haji dengan dipintai biaya oleh pihak KBIH sebesar Rp 50 juta. Syarat itu wajib dipenuhi lantaran Zaenal ingin berangkat haji dengan cepat.

“Sebetulnya ini masih dalam pemeriksaan, namun pengakuan sementara dia dibantu salah satu orang KBIH dengan membayar biaya sebesar Rp50 juta,” ujarnya.  (Saban)