Friday, 16 November 2018

Rupiah Loyo, Pekerja di KBN Ketar-Ketir

Jumat, 28 Agustus 2015 — 5:40 WIB
Rupiah terus melemang atas dollar AS

Rupiah terus melemang atas dollar AS

JAKARTA (Pos Kota) – Loyonya nilai rupiah terhadap dolar AS, membuat ribuan pekerja di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Jakut ketar-ketir. Mereka takut takut terkena PHK. Apalagi banyak di antara mereka yang dirumahkan.

Yuti 23, buruh sebuah perusahaan di KBN, menyebut sejak rupiah melemah sejumlah perusahaan mempekerjakan karyawan dengan cara borongan.

“Katanya sih nggak ada orderan. Jadi yang kerja yang lama-lama saja, sedangkan pekerja baru terutama yang kontrak tidak diperpanjang lagi,” ujar gadis asal Lampung yang tinggal di Kelurahan Sukapura, Kamis (27/8).

Mustikomah, 22, warga RW 12 Rorotan, mengaku seminggu lalu kontrak kerja di perusahaaannya tidak diperpajang lagi, sehingga ia melamar kerja di perusahaan lain.

Kasie Hubungan Industri, Sudin Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jakut, S Naibaho, meyakini belum ada perusahaan di KBN yang tutup karena terdampak kenaikan dolar.

GLODOK LESU

Meroketnya nilai dolar juga membuat perdagangan barang elektronik di pusat perdagangan Glodok, Jakarta Barat lesu darah. Pedagang kelimpungan, karena pembeli sepi dan omset penjualan anjlok. Bahkan, beberapa pemilik toko terpaksa tutup usaha.

Han Sin, 50, pedagang elektronik, mengaku sangat terpukul. “Sudah dua minggu ini tidak ada pembeli. Omset penjualan anjlok hingga 40 persen, beberapa pemilik toko terpaksa menutup usahanya. Karena sudah tidak bisa lagi menutupi pengeluarannya.”

“Kalau sampai September 2015 tidak ada perubahan, ada kemungkinan saya akan istirahat dulu (tutup),” ucapnya.

MELEMAH TERUS

Menurut pengamat ekonomi politik, Salamuddin Daeng, tidak ada faktor yang memberi kekuatan pada rupiah, baik dari luar maupun dalam negeri sehingga mata uang RI ini akan melemah terus. “Jangan harap bisa menguat.”

Melambatnya perekonomian dunia berdampak terhadap ekonomi Indonesia. Ini terlihat besarnya neraca transaksi berjalan. Neraca perdagangan juga semakin menurun. Banyak portofolio investasi asing yang hengkang.

“Dengan semakin menguatnya dolar AS, harga barang naik, sehingga inflasi semakin panas. Pada akhirnya, daya beli masyarakat semakin tergerus,” jelasnya.

Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Gede Ngurah (AAGN) Puspayoga mengungkap meski dolar AS menembus di angka psikologis Rp14.000, koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah belum begitu merasakan dampaknya. Karena produk mereka menggunakan produk lokal.
(wandi/tarta/setiawan)