Thursday, 15 November 2018

Anak Muda yang Hebat-hebat

Sabtu, 29 Agustus 2015 — 2:12 WIB

Oleh S Saiful Rahim

“Assalamu alaykum,” kata Dul Karung dengan suara lantang dan fasih sambil melangkah masuk ke warung kopi Mas Wargo.

“Ada apa Dul? Tampaknya kau gembira sekali?” sambut orang yang duduk dekat pintu masuk seraya bergeser memberi tempat untuk si Dul duduk.

“Aku gembira sekali mengetahui anak-anak muda kita kreatif,” jawab Dul Karung sambil mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul. Lalu, seraya mengunyah singkong, dia pun duduk di tempat yang disediakan.

“Dari mana kau tahu anak-anak muda kreatif? Dari omongan Rizal Ramli ya?” tanya seseorang entah siapa dan yang mana.

“Ah, kau sinis dan sentimen betul kepada Pak Rizal Ramli. Yang bicara bahwa anak-anak muda kita kreatif bukan beliau, tapi Levita Supit,” jawab Dul Karung, kali ini sambil menyeruput tehnya yang masih panas.

“Siapa dia?” tanya yang tadi bergeser memberi tempat pada Dul Karung.

“Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia atau Wali, kalau disingkat,” jelas Dul Karung.

“Menurut beliau, pelaku usaha waralaba usia muda kita kini berpeluang besar untuk bersaing, bahkan untuk menguasai, dunia bisnis tingkat ASEAN. Mereka memiliki kreativitas di bidang pemasaran dan jenis produk yang khas,” tambah Dul Karung dengan sedikit pongah.

“Ah, omonganmu bukan untuk konsumsi kelas warung kopi kakilima, Dul,” kata orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Bung salah! Kini sudah saatnya kita pun mengangkat derajat warung kopi kakilima. Setidak-tidaknya dalam hal mutu topik obrolan,” sanggah orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung.

“Benar,” kata Dul Karung bersemangat dan penuh keyakinan.

“Dan kalau berbicara tentang pelaku waralaba muda kita sekarang ini, sesungguhnya kita juga berbicara tentang warung kopi. Bukankah setiap ada festival kuliner, yang paling banyak kita temukan adalah warung kopi? Tentu saja namanya sudah diubah. Dimodifikasi atau dipermodernlah,” sambung Dul Karung tambah jumawa.

“Iya juga, ya? Di mana-mana, mulai dari Pasar Santa sampai mal-mal besar dan mewah, berserakan warung kopi modern,” kata Mas Wargo dengan suara separo gumam.

“Ironisnya, di saat anak-anak muda maju dengan kreativas baru, yang tua-tua malah bikin bingung,” kata Dul Karung lagi. Kini sambil mereguk habis tehnya.

“Maksudmu?” tanya orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang satu-satunya yang ada di sana.

“Itu lho, tokoh-tokoh yang melamar jadi calon pemimpin KPK tapi tidak lulus saringan?” kata Dul Karung menambah bingung orang yang bertanya.

“Beliau-beliau itu kenapa?” tanya Mas Wargo yang juga bingung.

“Masak beliau tidak sadar bahwa orang yang tidak tahu berapa banyak hartanya tak layaklah menjadi pimpinan KPK,” kata Dul Karung sambil pergi meninggalkan warung Mas Wargo begitu saja.( syahsr@gmail.com )