Wednesday, 19 September 2018

Polwan Bukan Pelengkap

Senin, 31 Agustus 2015 — 5:55 WIB

Oleh Harmoko

TANGGAL 1 September besok merupakan Hari Polisi Wanita, sebagai peringatan hari kelahiran Polwan di Indonesia. Polwan lahir tanggal 1 September 1948, bermula dari Bukittinggi ketika Pemerintah Darurat Republik Indonesia menghadapi Agresi Militer II Belanda.

Saat itu terjadi pengungsian besar-besaran. Baik pria, wanita, maupun anak-anak meninggalkan rumah untuk menjauhi titik-titik peperangan. Untuk mencegah terjadinya penyusupan, polisi melakukan pemeriksaan. Tetapi, para pengungsi wanita tidak mau diperiksa secara fisik oleh polisi pria.

Pemerintah pun menugasiSPN (Sekolah Polisi Negara) Bukittinggi untuk membuka pendidikan inspektur polisi bagi kaum wanita. Pendidikan dimulai tanggal 1 September 1948 yang kemudian dinyatakan sebagai hari kelahiran Polwan.

Seiring dengan waktu, tugas Polwan tak hanya untuk melakukan pemeriksaan terhadap kaum wanita dan anak-anak, tapi meluas sebagaimana tugas polisi pria. Meski, sebenarnya, dalam banyak aspek antara polisi wanita dan polisi pria memiliki perbedaan dalam konteks genderdengan segala konsekuensinya.

Sebagai polisi, wanita dituntut tetap menjalankan fungsinya sebagai istri dan ibu di rumah. Di sisi lain, mereka juga harus menjalankan tugas-tugasnya secara prefesional di luar rumah.

Peran ganda seperti itu mau tidak mau harus dilakukan oleh Polwan, apalagi di tengah paradigma bahwa Polwan bukan sekadar pelengkap bagi polisi pria. Dengan demikian, tuntutan profesionalitas tak saja terkait dengan mental dan fisik, tapi juga kemampuan akademik dan kemampuan manajerialnya.

Sejalan dengan semangat yang terus digelorakan oleh jajaran kepolisian bahwa polisi harus selalu bersikap empati dan lebih humanis, kehadiran Polwan terasa lebih efektif untuk lebih bisa mendekatkan diri dengan masyarakat. Bukan berarti polisi pria tidak bisa melakukan hal itu, tetapi naluri perempuan selalu memiliki metode pendekatan yang lebih luwes ketimbang pria, sehingga bisa dengan mudah diterima oleh masyarakat.

Dalam usianya yang 67 tahun, kita percaya Polwan telah cukup dewasa untuk bisa mengemban tugas-tugasnya sebagai abdi masyarakat dengan penih empati, humanis, sekaligus profesional. Dirgahayu Polwan Indonesia! ( * )