Monday, 19 November 2018

“Sibuk Bersih-Bersih Orang Bersih “

Jumat, 4 September 2015 — 5:20 WIB
DK Sept 154

PARTAI politik (parpol) menjadi instrumen penting dalam jalannya demokrasi. Dalam demokrasi parpol ibarat sebuah pabrik  merupakan penghasil produk pemimpin. Pemimpin yang mampu mengurusi rakyat,  pemimpin yang mampu mensejahterakan rakyat.

Namun berkaca dari Pilkada Surabaya, justru berbalik dengan apa yang menjadi kaidah partai politik, dimana parpol justru tak punya nyali menghadapi seorang perempuan bernama Tri Rismaharini.

Sosok Walikota Incumbent, Tri Rismaharini menjadi figur kuat yang seakan tak dapat dikalahkan. Kekuatan figur walikota perempuan pertama kota Pahlawan ini  memang berhasil merebut hati masyarakat kota Surabaya, bukan karena citra tapi hasil kerja yang nyata. Sikap tegas dan keras tanpa kompromi menjadikan Risma sebagai sang penjaga kota yang berwibawa.

Ketegasan dan ketidak kompromian Risma ini ternyata membuat gerah para politisi di gedung dewan kota Pahlwan. Upaya pemakzulan pun dilakukan, karena dianggap tak mau menuruti kehendak politisi terkait Perwali Reklame hingga Proyek Tol tengah kota, Risma pun digoyang diawal masa kepemimpinannya, namun hal tersebut ternyata  tak mampu menggoyahkan kursi walikota yang diduduki Risma,

Namun tantangan kali ini berbeda, peluang  Risma untuk kembali menjadi sang penjaga kota telah dikebiri, lagi-lagi karena ulah para politisi. Ya, ulah politisi yang berupaya agar Surabaya tidak menggelar pilkada hanya karena sosok Tri Rismaharini yang dicintai oleh rakyatnya.

Berbagai retorika hingga menciptakan skenario politik yang seakan berupaya menyelamatkan demokrasi di Surabaya dilakukan oleh para politisi,   namun pada kenyataannya mereka tetap tak bernyali.

Lihat saja dengan alasan keluarga, seorang calon wakil walikota Haries Purwoko  tiba-tiba menghilang dan kabur begitu saja ketika melakukan pendaftaran setelah sebelumnya pamit untuk pergi ke toilet.

Bahkan dagelan politik pun berlanjut, bagaimana mana bisa seorang pasangan calon tidak memahami apa yang menjadi syarat dari KPU untuk pencalonan kepala daerah?, dan akibat ” kebodohan”- nya  berujung pada ditolaknya pencalonan pasangan tersebut. Surabaya kembali hanya memiliki calon tunggal dan kembali terancam tidak dapat menggelar pilkada tahun ini.

Inilah culasnya, bagaikan sebuah rumah kaca, apa yang dilakukan oleh para politisi partai politik di Surabaya seakan menjadi ruang penelanjangan bahwa ini karakter sebenanrnya dari para politisi kita. ketika dihadapkan dengan orang bersih bukannya juga ikut menjadi bersih malah  justru mereka “sibuk membersihkan orang – orang bersih”.- dhika